Pernyataan Para Ulama Dunia Tentang Khilafah Selama Pergolakan Timur Tengah


Para ulama yang mukhlish di dunia sepakat untuk mewujudkan kembali Khilafah. Seruan mereka untuk menegakkan Khilafah yang merupakan bisyarah nabawaiyah (kabar gembira dari nabi), secara lantang dan terbuka mereka serukan dalam khutbah-khutbah Jumat atau dalam pertemuan-pertemuan dengan umat. Pada tahun 2009, para ulama berkumpul di Jakarta dalam Muktamar Ulama Nasional. Hadir para ulama dunia yang memberikan testimoninya tentang keinginan Ulama untuk menegakkan Khilafah, seperti disampaikan para ulama dari Bangladesh, India, Indonesia, Palestina, Eropa, Syam dan negeri-negeri lainnya.

Akhir tahun 2010 dan tahun 2011, ketika pergolakan terjadi di Timur Tengah yang dimulai dari Tunisia, Mesir hingga negeri-negeri lainnya, termasuk Suriah, para ulama pun dengan lantang berbicara tentang janji Rasulullah akan tegaknya kembali Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian. Mereka berbicara dengan lantang, terbuka, tanpa ada sedikitpun yang disembunyikan di hadapan umat.

Ungkapan ikhlash para ulama untuk menyambut datangnya kembali Khilafah terungkap dalam sebuah video testimoni para ulama dunia tentang kewajiban menegakkan Khilafah ini yang ditayangkan dalam acara Konferensi Khilafah 2011 yang digelar oleh Hizbut Tahrir Australia di Sydney Australia beberapa waktu lalu.

Syeikh Umar ibn Abd al-Aziz di Masjid Nur, Kairo, Mesir, dalam sebuah khutbah Jumat di hadapan ribuan jamaah kaum Muslim serta disiarkan secara langsung melalui televisi setempat dengan tegas dan penuh keyakinan menyampaikan janji Allah sebagaimana tertuang dalam al-Quran surat an-Nur ayat 55: 

“Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal sholih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhoi-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An-Nur: 55)/

Ulama-ulama lainnya pun menyatakan hal sama, untuk berjuang menuju kembalinya Khilafah. “Aku bawakan kabar gembira berdasarkan kabar gembira dari Rasulullah Saw., bahwa Khilafah akan berdiri di akhir zaman. Dan siapa tahu, peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kaum Muslimin bisa melancarkan jalan menuju kembalinya Khilafah,” kata seorang Syeikh dalam sebuah acara telivisi.

“Kita percaya dengan pasti bahwa Khilafah akan tegak entah itu di Amerika, Eropa, entah kaum sekularis menyukainya atau tidak,” tegasnya.

“Ini adalah janji Allah dan Rasulullah. Aku katakan pada kalian, wahai para pemuda! Terimalah kabar baik ini. Demi Pemilik Ka’bah, Peperangan besar akan terjadi, dan bendera jihad akan dikibarkan dari tanah al-Quds (Yerussalem) dan Khilafah Rasyidah akan datang ke al-Quds (Yerussalem)” kata Shaykh Muhammad Hassan, pada bulan Februari 2011, dalam sebuah acara televisi.

“Apa itu pemimpin yang menindas? Yaitu pemimpin yang memaksa rakyatnya untuk tunduk kepada dia. Seperti Gaddafi (Libya): “Aku, atau akan kubakar semuanya”. Mubarak (Mesir): “Aku, atau kekacauan”. Ben Ali (Tunisi): … sama saja! Abdullah Saleh (Yaman): … sama saja! Ini adalah pemimpin yang menindas,” tegas Syeikh Abdullah Nahari, Mesir, April 2011.

“Selama Ramadhan tahun lalu, aku berbicara tentang laporan politik. Laporan prediksi dan penelitian tentang Islam, semuanya mengindikasikan Era baru untuk Khilafah sudah dekat!”, tegas Sheikh Abdul Majeed al-Zindani, Yaman, Maret 2011, disambut takbir ribuan kaum Muslim.

“Sebagai wujud dari rasa marah dan sedih atas penderitaan kaum Muslimin, kita biasa meminta kepada Allah Swt., untuk kematian, dibandingkan menyaksikan penginaan ini. Tetapi Allah memanjangkan hidup kita dan kita hidup untuk menyaksikan kemenangan. Kita ganti doa kita, dan sekarang kita minta kepada Allah untuk memanjangkan umur kita, dan membolehkan kita, walau hanya sebentar, untuk hidup di bawah bendera Khilafah.” Kata Syeikh Abdullah Nahari. 

“Ya Syeikh! Apa itu Khilafah? Kita akan mempunya Khilafah dan kau akan melihat apa yang terjadi di sekitar kita. Aku berkata: ketika Rasulullah dan para sahabat dibunuh, disiksa, dan dieksekusi di Makkah. Rasulullah Saw. berkata: Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, memang hal ini (Islam) akan lengkap, sehingga seorang musafir bisa pergi dari Sana’ ke Hadramaut taku hanya kepada Allah atau serigala pada jumlah domba-dombanya, tetapi kau adalah orang yang penuh kebencian,” tegas Syeikh Muhammad Hassan.

“Wahai kaum Muslimin! Bangkitlah untuk membantu dan mendukung perjuangan tegaknya Khilafah, walaupun hal itu terbayar dengan nyawamu!” kata Syeikh al-Zaghby, Mesir, Maret 2011.

“Umumnya ulama Islam saat ini mengatakan bahwa pada jaman di mana kita hidup saat ini adalah jaman penguasa diktator. Memerintah dengan memaksa. Bersabarlah, sehingga kalian bisa mendengar (apa yang akan datang selanjutnya). Penguasa diktator ini, merebut kekuasaan ini dengan kekuatan (paksaan). Dan menjaga kekuasaan itu pula dengan kekuatan (paksaan), dan kekuasaan itu akan runtuh dengan kekuatan!,” kata Syeikh Zindani.

“Masjid ini punya pesan. Pesan yang setiap masjid harus punya dan pesan dari masjid adalah pesan dari Islam dan tetang keEsaan Allah dan mendidik orang-orang sehingga  mereka menyembah Allah, penyembahan manusia kepada tuhan mereka untuk didirikannya Khilafah Rasyidah diantara mereka.” kata Syeikh Umar ibn Abd al-Azaiz, Kairo Mesir.

“Kita, ketika dulu ada syariah dalam Khilafah Islam, dan syariah diterapkan, kita punya kemuliaan. Kita melihat respon mulia seperti “Dari Harun al-Rasyid, pemimpin kaum Mukiminin kepada Nakfour,  anjing Romawi; adalah sebagai berikut: jawabanku adalah apa yang ada di hadapan matamu, bukan apa yang akan kau dengar (alias janji). Kita melihat dia menatap awan, dan berkata “Pergilah ke manapun kau suka, maka sesungguhnya Kharaj mu akan datang kepadaku di sini, insya Allah.” Kita mendapatkan kemuliaan, saudaraku. tetapi kita tersasar jauh dari Islam,” kata Syeikh Dr. Hazim Shawman, Mesir, Maret, 2011.

“Tantangan kita, sekarang, adalah menyesuaikan diri dengan teks Ilahi yang telah disampaikan oleh Rasul Saw kepada kita, kita harus berjuang dari era pemimpin diktator menuju ke era Khilafah Rasyidah yang berjalan dengan metode kenabian, dan semua waktu yang berada pada genggaman kita pada hari-hari akhir ini adalah waktu yang memperpanjang hidup pemimpin diktator ini,” kata Syeikh Hatim Fareed, dari Masjid Bilal, Iskandariyah, Mesir, April 2011.

“Jadi, apakah kita memilih untuk memperpanjang periode penguasa diktator ini, atau kita berusaha untuk memperpendeknya dan berbicara tentang Islam dan tentang hukum Allah, Yang Mulia, dan janji-Nya. Akan tetapi, ada beberapa orang tidak menginginkan ini,” Syeikh Hatim Fareed menambahkan.

“Yakinlah, bahwa hal ini adalah pasti dan terukur, dan fakta di dalam ijma’ (konsensus) semua ulama Muslim dan konsensus itu adalah sebuah bukti karena Rasul Saw bersabda, “Umatku tidak akan bersatu dalam kebohongan”, Konsensus adalah sebuah bukti, sebagai contoh adalah dalam fiqh, konsensus ulama, adalah sebuah kewajiban bagi Muslim untuk menunjuk seorang Khalifah dan membentuk otoritas/negara untuk menerapkan hukum Islam, adalah sebuah konsensus, ijma’!” kata Syeikh Hazim Salah, Mesir, Februari, 2011.

“Tanah Islam itu satu, dan tidak boleh dipisahkan atau dibagi. Memang benar, bahwa ada hadits dari Rasul Saw bahwa beliah bersabda, “Jika dibaiat dua orang Khilafah, maka bunuhlah yang kedua”. Dalam hadits yang lain, “bunuhlah yang terakhir”. Ini berarti bahwa hukum awal bagi Muslim adalah mereka seharusnya hanya mempunyai satu pemimpin di antara mereka”, kata Syeikh Ali bin Hajj, Al-Jazair, Oktober, 2010.

“Dan jika ada orang lain yang hendak memerangi Khalifah untuk mengambil kepemimpinan, Rasul Saw. memerintahkan untuk membunuh orang tersebut, untuk mencegah kekacauan dan permasalahan (yang muncul dari perpecahan). Lihatlah saat ini di dunia Muslim, berapa banyak presiden, berapa banyak raja, berapa banyak pemimpin. Bagi mereka yang benar-benar mencintai kitab Allah dan Sunnah Rasul Saw., maka mereka akan memilih untuk memilih mencabik-cabik batasan-batasan negara ini dan penghalang-penghalangnya, dan memilih satu pemimpin yang berhukum pada Kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw.” Lanjut syeikh Ali bin Hajj.

“Dan itulah alasanku untuk menyerumu pada ide ini, konsep aktivis Islam bserasatu di bawah Khilafah Islam dan oleh Khilafah, aku maksudkan di sini adalah Khilafah Rasyidah sebenar-benarnya,” kata Syeikh Nadir al-Tamimin, Palestina, Maret, 2011.

“Mereka berkata: kami ingin memisahkan agama dari politik. Agama adalah agama, dan politik adalah politik. Dalam hal ini mereka melakukan kesalahan, maka jika politik berarti mengurus tentang manusia dan lingkungan, maka Quran secara spesifik telah menyatakan bagaimana cara menangani hal-hal tersebut dengan tujuan mengarahkan manusia untuk mencapai ridho Allah Yang Mulia,” kata Syeikh Hatim Fareed, Masjid Bilal, Mesir, April 2011.

“Dan jika mereka berkata bahwa mereka menginginkan pemisahan dari agama atau memisahkan agama dari politik, maka itu akan menyalahi sumpahku sebagai seorang Muslim. Allah Swt. berfirman dalam Quran, “Jika engkau berseteru pada sesuatu, maka ambilah putusan yang menjadi ketetapan Allah”,” tegas Syeikh Hatim Fareed menambahkan.

“Rasulullah Saw bersabda, “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (mulkan adlon), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (mulkan jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ‘alam minhajin nubuwwah) , kemudian beliah (Nabi), diam.” tegas Syeikh Umar ibn Abd al-Aziz, Masjid Nur, Kairo, Mesir, 2011.

Demikianlah, para ulama mukhlish di berbagai penjuru dunia sudah berani menyatakan kebenaran untuk menyambut bisyarah nabawiyah (kabar gembira dari Nabi), bahwa Khilafah akan kembali lagi. Maka, sudah saatnya, kaum Muslim bersama ulama bersatu padu untuk mewujudkan janji Rasulllah Saw., tersebut. Insya Allah, Khilafah semakin dekat saja. [m/f/a/syabab.com] 

Lihat Video:

sumber: syabab.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: