Siapa Bilang Khilafah Utopis?

Oleh : Mush’ab Abdurrahman

Dalam kesempatan acara diskusi wacana pembubaran salah satu ormas islam beberapa bulan yang lalu, saya menjadi salah satu pembicara yang diundang oleh panitia.

Pembicara lainnya adalah Dr. Moqsith Ghazali, kita semua pasti tahu, di adalah salah satu ‘pentolan’ Jaringan Islam Liberal (JIL). Panitia meminta saya untuk menanggapi berbagai wacana yang menyangkut isu pembubaran salah satu ormas islam yang anggapan sebagian masyarakat sering menimbulkan anarkis alias islam radikal. Singkat punya cerita, saya memang tidak mau terjebak dalam diskusi ini, seperti apa yang panitia inginkan yaitu, ingin memecah belah umat islam dengan memanfaatkan momentum pembubaran ormas radikal. Instink politik saya dalam diskusi semacam ini harus dipertajam. Pada forum itu saya ungkap bahwa, mengangkat tema pembubaran ormas bukanlah tujuan utamanya, pembubaran ormas hanya isu kulit saja (skin issue) sedangkan agenda terselubungnya (hidden agenda) adalah stigma negatif terhadap islam dan deradikalisasi gerakan islam (baca; sekulerisasi), puncaknya adalah melemahkan potensi islam politik sebagai ideologi kehidupan. Kalaupun ada ormas yang dianggap melakukan tindakan kekerasan terhadap kemaksitan (setidaknya begitu sepengetahuan saya) tiada lebih akibat kegagalan pemerintah beserta aparatnya gagal menampung aspirasi umat yang semakin meningkat kesadaran terhadap penerapan syariat islam, ini semua bisa dilihat dari salah satu indikator kecilnya sangat gerah melihat kemasiatan yang kerap dijumpai disudut-sudut kota. Sehingga lambannya pemerintah disikapi dengan ‘pengambil-alihan tugas’ pemerintah untuk memberantas kemaksiatan. Oleh karena itu jika pemerintah tidak ingin masyarakat main hakim sendiri, harusnya mampu menyerap aspirasi umat islam untuk menerapkan syariah islam . Terbukti sistem khilafah yang pernah diterapkan umat islam mampu mencapai masa kejayaan dalam sejarahnya.

Menanggapi gagasan khilafah islamiyah menimbulkan respon ‘panas’ dari Mas Moqhsith (begitu sapaan akrab diforum itu) dari JIL. Intinya dia mengatakan tokoh ormas-ormas besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis tidak sepakat (atau setidaknya belum sepakat) dengan khilafah. Sebagiamana NU menyatakan sistem Republik adalah final. “Kalau Mas Mush’ab ( begitu moqsith menyapa saya) tetap ingin menerapkan khilafah di Indonesia akan mendapat penolakan dari tokoh-tokoh umat islam. Sikap JIL sendiri jelas bahwa sekulerisme menjadi keniscayaan negara-negara sekarang didunia, bahkan negeri islam sekarang menjadikan sekulerisme sebagai bagian sistem kehidupan bernegaranya. Sampai seribu tahun pun khilafah mustahil dapat diterapkan” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mengulas sedikit tentang sikap dari Moqsith, begitu pula banyak tokoh-tokoh moderat yang menyesatkan umat dengan ide-ide sekulerismenya dan menolak seruan syariah dan khilafah.

Tentang banyaknya tokoh-tokoh ormas islam besar di Indonesia yang menolak syariah dan khilafah bisa kita jawab bahwa; menegakkan syariah dan khilafah adalah kewajiban, didalam islam sudah menjadi ma’lumum min addin bi dlarurah berdasarkan Al-qur’an, As- Sunnah dan ijma’ shahabat yang didukung pula dengan pendapat-pendapat ulama mu’tabar. Sehingga atas landasan apa kita menegakkan syariah dan khilafah harus ada legitimasi dari tokoh-tokoh ormas? Kalau pun toh ada tokoh-tokoh ormas belum sepakat, tidak akan sedikitpun mengahalangi kami untuk terus berjuang menegakkan syariah dan khilafah. Meskipun demikian upaya dukungan tokoh-tokoh ormas penting dalam membangun tali simpul perjuangan syariah dan khilafah, namun dukungan atau penolakan bukanlah dalil wajibnya khilafah atau tidak. Penetapan kewajiban terhadap syariah dan khilafah tetap disandarkan kepada sumber hukum syara’. Kita tidak boleh berkecil hati, secercah harapan besar datang dari dukungan terhadap syariah dan khilafah oleh ribuan ulama, kiyai,dan Mubalighoh se- Indonesia yang berhasil dipimpin oleh Hizbut-Tahrir Indonesia dalam 3 momentum besar yaitu Muktamar Ulama Nasional, Muktamar Mubalighoh Nasional dan Konferensi Khilafah Islamiyah. Dalam momentum besar itu para Ulama, Kiyai, Mubalighoh, tokoh. Bisa jadi dengan mengatasnamakan penolakan khilafah dari tokoh-tokoh ormas oleh JIL , disebabkan ketakutannya terhadap keberhasilan yang dicapai oleh HTI dalam memimpin ulama-ulama, kiyai dan mubalighoh dalam satu barisan perjuangan menegakkan syariah dan khilafah yang sangat massif di Indonesia. Oleh karena itu kita tidak boleh terlalu menanggapi fakta yang disodorkan oleh JIL tersebut.

Mengenai provokasi pembubaran ormas islam yang dianggap radikal serta intensnya seruan sekulerisme, saya tanggapi cukup enteng aja. “ kita gak usaha kaget dengan ungkapan tersebut, itu semua memang sudah pekerjaannya orang-orang JIL, sekali lagi saya bilang itu pekerjaan, disitulah ia mencari penghidupan. Jadi jangan diambil hati” begitu seru saya dalam forum tersebut. Saya menilai bahwa apa yang dilakukan oleh JIL bukan dorongan ideologis, tetapi lebih dominan kepada materi. Buktinya semua yang dilakukan oleh JIL semua karena sokongan dana asing (semacam Asia Foundations dll). Itu bisa dibuktikan kelesuan JIL beberapa waktu belakangan ini karena suntikan dana asing juga seret. Keprihatinan itu muncul justru pada kader-kader junior yang notabene masih mencari jati diri. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang masih masih labil dan mengikut apa kata tokoh-tokoh JIL. Merekalah sebenarnya korban sekulerisasi pemikiran tanpa mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh mereka demi mengejar materi dengan rela menjadi seorang aktivis JIL. Sementara itu tokoh-tokohnya pun sebenarnya juga menjadi boneka dari kekuatan kapital (pemegang modal) untuk memporakporandakan khasanah pemikiran islam yang agung.

Berikutnya, ungkapan moqhsith bahwa khilafah sampai seribu tahun lagi pun tidak akan tegak, saya tanggapi dengan jawaban diplomatis bahwa, “ Ya betul apa yang disampaikan Mas Moqsith, sampai seribu tahun pun khilafah tidak akan tegak kalau yang mendirikan khilafah semacam orang-orang seperti Mas Moqsith dan teman-temannya, tetapi kami yakin bahwa khilafah akan tegak-dengan izin Allah SWT- bila para pejuangnya sangat yakin akan kebenaran khilafah dan optimis memperjuangkannya, memang tidak akan ada sebuah keberhasilan , bila berada ditangan orang yang tidak meyakini sesuatu keberhasilan tersebut”.

Terakhir, yang perlu saya jelaskan sedikit adanya opini yang mengatakan bahwa khilafah adalah utopis atau sesuatu hal yang mustahil terwujud. Sungguh khilafah bukanlah sesuatu hal yang utopis setidaknya 4 argumentasi yang menunjukkan hal tersebut yaitu:

1. Adanya Janji Allah SWT Kepada Orang-Orang Beriman Akan Diberikan Kekuasaan (Istikhlaf)
2. Khilafah Adalah Kabar Gembira Kenabian Muhammad SAW (Bisyarah Nubuwwah)
3. Adanya Umat Yang Mendukung Tegaknya Khilafah Seraya Menyambut Kabar Gembira Kenabian Tersebut
4. Adanya Sebuah Kelompok Yang Ikhlas Dan Membenarkan Janji Allah Dan Rasul Dengan Teguh Memperjuangkan Khilafah

Adanya Janji Allah SWT Kepada Orang-Orang Beriman Akan Diberikan Kekuasaan (Istikhlaf)

Sesungguhnya kemenangan dakwah ini merupakan garansi terbaik yang diberikan kepada para pembela risalahNya. Garansi resmi dari Allah ini bagaikan obat pelipur lara ditengah cobaan dalam memegang bara api perjuangan islam. Orang-orang kafir boleh-boleh saja terus memfitnah atau pun mencoba menghentikan dakwah islam, akan tetapi makar tersebut sedikit pun tidaklah menyurutkan langkah para pengemban dakwah yang mukhlis dalam dakwahnya. Didadanya tersimpan kekuatan iman yang membuncah, mereka yakin akan menang. Keimanan itulah yang mengingatkan kepada mereka kepada janji-janji Allah swt akan kemenangan ideology islam dimuka bumi. Sebagaimana Allah swt berfirman;

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai (TQS. At-Taubah[9] ;33)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci (TQS. Ash-Shaff [61] ;9)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (TQS. Al-Fath[48]:28)

Ketiga ayat diatas dengan lafadz yang hampir sama merupakan bentuk janji Allah swt akan kemenangan islam. Jadi Rasulullah saw diutus khusus untuk memenangkan ideologi Islam diatas ideologi-ideologi kufur lainnnya. Kita juga melihat bahwa kemenangan tersebut bukan hannya dirasakan di masa Rasulullah saw akan tetapi juga oleh umat sesudahnya. Terbukti khilafah islam pernah jaya memenangkan ideologi dimuka bumi selama lebih dari 10 abad. Kemenangan ini adalah kemenangan didunia bukan diakhirat. Artinya kemenangan ini akan dirasakan oleh umat islam sebagai manifestasi dari predikatnya sebagai umat terbaik (QS.3;110) dengan diberikannya kekuasaan (istikhlaf)dimuka bumi . Sedangkan kemenangan diakhirat pasti akan mereka dapatkan berupa kenikmatan surga. Janji Allah swt berupa kekuasaan juga dikuatkan melalui firmanNya;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(TQS. An-Nur[24];55).

Ayat ini semakin memperkuat keimanan kita akan janji kekuasaan berupa khilafah yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih (baca;berdakwah). Kalau Allah swt sudah berjanji artinya janji itu pasti terbukti.

إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ…

…Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (TQS. Ar-Ra’d[13]:31)

Khilafah Adalah Kabar Gembira Kenabian Muhammad SAW (Bisyarah Nubuwwah)

Berikutnya yang membuktikan bahwa khilafah bukanlah hal yang mustahil adalah melalui kabar gembira dari Rasulullah saw. Seakan memperkuat janji Allah swt diatas tentang kekuasaan islam Rasulullah juga memberikan kabar gembira kepada umatnya bahwa kekuasaan islam akan meliputi wilayah barat sampai timur (seluruh muka bumi). Rasulullah saw bersabda;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan; merah dan putih.(HR. Muslim)

Dalam riwayat lain;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah mendekatkan bumi ini untukku, atau beliau mengatakan: “Rabbku telah mendekatkan bumi ini untukku, sehingga aku dapat melihat antara timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku akan sampai pada jarak yang diperlihatkan kepadaku tersebut. Aku telah diberi dua harta simpanan; harta berwarna merah (emas) dan harta berwarna putih (perak)…(HR. Abu Daud)

Kalau bukan khilafah islamiyah, terus apa yang bisa merealisasikan terwujudnya kekuasaan tersebut terbukti?

Melalui hadis beliau yang lain Rasulullah saw menunjukkan bukti bahwa kekuasaan tersebut hanya akan dipegang oleh khilafah untuk kedua kalinya. Berikut petikan hadis tersebut;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath Thiyalisi telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al Wasithi telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Basyir menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani dan berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin)?” kemudian Hudzaifah berkata, “Aku hafal Khutbah beliau.” Maka Abu Tsa’labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kekhilafahan menurut sistim kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung kerajaan yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untntanuk mengakhirinya Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berlangsung kembali kekhalifahan menurut sistim kenabian. Kemudian beliau berhenti”. (HR. Ahmad)

Dalam hadist yang terdapat Musnad Ahmad ini menunjukkan tentang periodisasi kekuasaan umat islam yang harus dilampau. Diakhir hadis tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan akhir dari umat islam adalah khilafah islamiyah. Jadi kalau ada tokoh yang menyatakan bahwa sistem republik atau apalah itu,adalah harga mati alias final, sungguh pernyataan tersebut sesat dan tidak pantas keluar dari lisan seorang muslim. Karena baginda mulia Rasulullah saw telah menegaskan bahwa khilafah ‘ala min hajji nubuwwah adalah final. Hadist ini berarti menggugurkan semua pendapat yang menganggap khilafah itu utopis. Kecuali orang tersebut berani mengingkari hadis yang jelas ini.

Sikap yang seharusnya diambil oleh seorang muslim mengenai bisyarah nubuwwah adalah menyambut kabar gembira tersebut dengan menerjunkan diri dalam kawah condrodimuko pergolakan dakwah untuk membuktikan realisasi kabar gembira tersebut. Sebuah contoh fenomenal yang bisa dijadikan suri tauladan umat islam yakni Muhammad Al-Fatih. Beliau adalah seorang pemuda jenius dan bertakqwa sekaligus pemberani yang telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang telah berhasil menaklukkan Negara Konstantinopel. Penaklukan tersebut terinspirasi dari hadist Rasulullah saw tentang kabar gembira akan ditaklukkannya Konstantinopel oleh kaum muslimin. Hadist tersebut beliau ketahui diwaktu masih berusia belia dari gurunya. Hadist tersebut adalah;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِي أَبُو قَبِيلٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي وَسُئِلَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلًا الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَدَعَا عَبْدُ اللَّهِ بِصُنْدُوقٍ لَهُ حَلَقٌ قَالَ فَأَخْرَجَ مِنْهُ كِتَابًا قَالَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكْتُبُ إِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلًا قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Qabil berkata; kami sedang berada bersama-sama Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash, dia ditanya: di antara dua kota manakah yang terlebih dahulu dibuka; Kostantinopel atau Rum? Maka dia meminta sebuah kotak dan mengeluarkan dari dalam kotak tersebut sebuah kitab. Dia (Abu Qabil) berkata; maka Abdullah berkata; suatu ketika kami berada bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang menulis, yaitu di saat beliau ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu dibuka; Kostantinopel atau Rum? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab: “Kota yang lebih dahulu dibuka adalah kota Hiroclus (Kostantinopel) “(HR. Ahmad)

Muhammad Al-Fatih muda bertekad akan menjadi bukti kebenaran kabar gembira penaklukan Konstantinopel. Sekaligus dialah yang akan menjadi sang penakluk tersebut. Karena beliau juga ingin meraih kemuliaan yang akan disandang sebagai pemimpin yang terbaik sekaligus pasukan yang terbaik apabila mampu menaklukkan Konstantinopel. Sifat tersebut terdapat dalam hadist Rasulullah saw;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ ثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ حَدَّثَنِي الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الْمَعَافِرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بِشْرٍ الْخَثْعَمِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah -dan saya mendengarnya dari Abdullah bin bin Muhammad bin Abu Syaibah- ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al Walid bin Al Mughirah Al Ma’afiri ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Busyr Al Khats’ami dari bapaknya bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”(HR. Ahmad)

Akhirnya hadist tersebut terbukti, 800 tahun kemudian Konstantinopel berhasil ditaklukkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih. Sehingga Al-Fatih merupakan gelar yang disematkan buat beliau karena keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel.

Demikianlah kabar gembira akan kembalinya khilafah Islamiyah untuk kedua kalinya sekaligus salah satu bukti bisyarah nubuwwah yang telah terbukti ditangan seorang Muhammad Al-Fatih. Tinggal kembalinya khilafah islamiyah sekaligus penaklukkan kota Roma yang juga belum terwujud menantang kita semua untuk menjadi bagian terwujudnya kabar gembira tersebut.

Adanya Umat Yang Mendukung Tegaknya Khilafah Seraya Menyambut Kabar Gembira Kenabian Tersebut

Kisah penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih betul-betul telah menginspirasi banyak kalangan umat islam dalam menyambut kabar gembira kenabian. Mustahil Muhammad Al-Fatih berhasil melakukan penaklukkan tanpa keberadaan khilafah Islamiyah dan support pasukan yang kuat saat itu. Oleh karena itu dengan mencermati beberapa janji dan kabar gembira kenabian tentang kembalinya khilafah islamiyah untuk kedua kalinya seraya melihat berbabagai problematika yang menghimpit umat islam sekarang ini semakin relevan gagasan khilafah islamiyah sebagai jawaban dari probelamtika umat islam tersebut. Oleh karena sekarang ini Alhamdulillah gagasan khilafah islamiyah sudah menggelinding mendunia. Artinya perjuangan penegakan syariah dan khilafah telah mendapat dukungan oleh umat islam diseluruh belahan bumi. Terbukti isu khilafah berhasil menggetarkan kekuasaan Negara-negara kapitalis didunia terutama AS. Kesadaran umat islam akan perjuangan khilafah sekarang ini sudah tidak bisa terbendung lagi. Perjuangan ini memang tidak banyak dipublikasikan oleh media-media dunia khususnya media barat, alasannya cukup mendasar karena takut kalau massif diberitakan akan semakin menambah kuat isu khilafah didunia. Namun perjuang khilafah terasa terus menggeliat didunia islam, barat dan eropa seiring dengan kekecewaan mereka melihat kerapuhan sistem kapitalisme yang tinggal menunggu kehancurannya. Oleh sebab itu selama umat islam terus mendukung perjuangan khilafah tidak terbendung lagi khilafah dalam waktu dekat-dengan izin Allah swt- akan segera tegak.

Adanya Sebuah Kelompok Yang Ikhlas Dan Membenarkan Janji Allah Dan Rasul Dengan Teguh Memperjuangkan Khilafah

Tidak kalah pentingnya, yang menunjukkan ketidakmustahilan akan kembalinya khilafah islamiyah, adalah keniscayaan adanya kelompok (athaifah) yang ikhlas serta hadir dalam rangka mendedikasikan dirinya untuk membenarkan sekaligus demi merealisasikan janji Allah dan RasulNya untuk menegakkan khilafah islamiyah. Sebagai contoh lahirnya Hizbut Tahrir yang dibidani oleh seorang yang Faqih yaitu Asyeikh Taqiyuddin An-Nabhani pada tahun 1953 M di Al-Quds Palestina. Hizbut Tahrir telah berjanji kepada Allah swt untuk memperjuangkan syariah dengan menegakkan khilafah Islamiyah sebagai agenda utamanya. Setelah dilakukan pendalaman terhadap fakta dunia islam diambillah kesimpulan bahwa yang menjadi problematika utama islam sekarang adalah tidak diterapkannya syariah islam dalam naungan khilafah.

Inilah yang menjadikan Hizbut Tahrir terus terdorong untuk berjuang meraih kepemimpinan umat melalui perjuangan politik, salah satu diantaranya adalah mendidik umat dengan tsaqofah islamiyah. Edukasi tsaqofah –yang tertuang dalam tsaqafah hizbiyah-diharapkan mampu membangkitkan pemikiran umat sebagai dasar tegaknya khilafah islamiyah. Hizbut Tahrir memahami bahwa mengembalikan khilafah adalah tugas yang diemban secara kolektif (berjamaah). Sebagaimana mengikuti perjuangan yang dirintis oleh Rasulullah saw mulai dari tahap awal hingga berhasil menegakkan daulah islam di Madinah.

Hasil dari perjuangan politik Hizbut Tahrir terbukti mendapat sambutan luar biasa oleh umat islam didunia, sehingga menjadikan isu perjuangan syariah dan khilafah lambat laun merambah seluruh pelosok dunia. Ribuan ulama, tokoh masyarakat, intelektual, jurnalis, pengusaha, polikus bersatu padu diseluruh dunia semakin menambah keyakinan bahwa khilafah bukanlah hal yang utopis untuk diwujudkan.

Demikianlah empat hal yang menjadikan argumentasi bahwa khilafah bukanlah perkara yang utopis. Negara barat kapitalis sendiri tidaklah menganggap khilafah suatu hal yang utopis. Buktiknya mereka selalu melakukan makar berupa propaganda-propaganda diberbagai bidang untuk menyerang perjuangan politik islam. Globeal War on Terorism adalah salah satu strategi politiknya sekarang ini. Di hampir seluruh negeri-negeri islam para penguasa pendukung negara kapitalis menangkapi dan memerangi para pejuang islam yang memperjuangkan tegaknya syariah islam. Kalau memang khilafah islamiyah adalah utopis kenapa mereka ketakutan luar biasa terhadap para pejuang islam yang bejuang menegakkan khilafah? Tidaklah mungkin mereka memerangi sesuatu hal yang utopis. Terbukti khilafah tidaklah utopis.

Sulit Bukan Berarti Utopis

Sebagian orang mengatakan bahwa menegakkan khilafah adalah perkara yang sangat sulit, sehingga mereka mengatakannya utopis. Memang benar menegakkan khilafah adalah perkara yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tantangan, rintangan, ancaman, intimidasi sampai nyawa melayang. Intinya butuh pengorbanan yang luar biasa. Namun bukan berarti sesuatu hal yang sulit itu utopis. Sulit pasti, tapi bukan berarti utopis. Tidak ada kata menyerah buat pejuang sejati. Kuncinya umat islam mau berjuang atau tidak. Tidak ada kata utopis bila Allah dan RasulNya telah menjanjikannya. Mulai sekarang hilangkan kata utopis dalam perjuangan sebagaimana ketidakutopisan janji Allah berupa surga yang kekal bagi para pencintaNya. Mau?? 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: