TANGGAPAN ~Kritik Atas Pendapat Yang MenyatakanMengoreksi Penguasa Harus Dengan (Empat Mata)~

Berikut ini adalah diskusi bantahan
oleh Ustadz al Fadhil Abu Yahya Badrussalam, Lc [Tokoh Salafy] 
atas artikel yang berjudul Kritik Atas Pendapat Yang MenyatakanMengoreksi Penguasa Harus Dengan (Empat Mata) oleh Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy [Tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)]
Yang kemudian dijawab balik bantahan tersebut oleh penulisnya dengan judul BANTAHAN TANGGUH ATAS BANTAHAN RAPUH YANG DIKLAIM TANGGUH oleh Al Faqir Ila Allah, Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy
——-Semoga Allah swt memberikan hidayah bagi kita semua!!——-


Sebuah bantahan terhadap artikel berjudul “Mengoreksi Penguasa Harus Dengan GAYA TUKUL…??”
Judul asli artikel Kritik Atas Pendapat Yang MenyatakanMengoreksi Penguasa Harus Dengan (Empat Mata) karya tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy hadahullah
Oleh al Ustadz al Fadhil Abu Yahya Badrussalam, Lc. hafizhahullah
Berkata Syamsuddin Ramadlan (HTI):
Mengoreksi Penguasa Harus Dengan GAYA TUKUL…??
Tanggapan: Tukulkah yang menjadi panutanmu ??
Tanggapan Balik:
Perkataan seperti ini tidak pernah keluar dari seorang ustadz faqih-sholih dan berakhlaqul karimah; tapi, hanya akan keluar dari lisan orang-orang yang hatinya dipenuhi kenistaan dan kekotoran. Ana berdoa dengan sepenuh hati, agar Allah membersihkan hati antum dari semua kenistaan dan kekotoran.
HTI: Perlu kami nyatakan bahwa hukum asal amar makruf nahi mungkar harus dilakukan secara terang-terangan, dan tidak boleh disembunyikan. Ini adalah pendapat mu’tabar dan perilaku generasi salafus sholeh.
Tanggapan: Tetapi justru para ulama salaf menyatakan bahwa hukum asal menasehati adalah dengan rahasia. Ibnu Hibban berkata: “Nasehat wajib kepada manusia seluruhnya.. akan tetapi wajib dengan secara rahasia, karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan maka ia telah mencelanya, dan siapa yang menasehatinya secara rahasia, maka ia telah menghiasinya..” (Raudlatul ‘Uqala hal 196).
Imam Asy Syafi’I berkata: “Nasehatilah aku ketika sendirian, dan jauhi nasehat di depan jama’ah. Karena nasehat ditengah manusia adalah salah satu macam mencaci maki yang aku tidak suka mendengarnya.. (Mawa’idz imam Asy Syafi’I 1/23).
Tanggapan Balik:
Pertama, perkataan Ibnu Hibban maupun Asy Syafi’iy bukanlah dalil syariat, dan sama sekali tidak boleh dijadikan dalil syariat. Menjadikan pendapat Ibnu Hibban dan Asy Syafi’iy sebagai dalil syariat sama dengan telah menyepadankan keduanya dengan Asy Syaari’. Kedua, perkataan Al-Hafidz Ibnu Hibban rahimahullah tidak menunjukkan bahwa beliau melarang menasehati penguasa dengan terang2an, yang beliau larang adalah menasehati penguasa yang disertai niat mencela dan menghina.. Begitu pula perkataan Imamul Jalil Imam Syafi’iy rahimahullah juga tidak menunjukkan bahwa beliau melarang menasehati penguasa dengan terang-terangan, tapi itu hanya sikap beliau sendiri yang tidak suka dinasehati dengan terang-terangan di depan umum. Ketiga, ulama-ulama salafush sholeh dari kalangan shahabat telah berijma’ mengenai masyru’nya muhasabah lil hukkam ‘alanan (mengoreksi penguasa dengan terang-terangan), bahkan kadang-kadang harus dilakukan dengan khuruj dari penguasa. Ijma’ shahabat telah menunjukkan dengan sangat jelas masalah ini (keharusan mengoreksi penguasa dengan terang-terangan). Misalnya, khurujnya Ummul Mukminin ‘Aisyah ra dan Mu’awiyyah ra terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Baik shahabat yang mengoreksi dan yang dikoreksi tidak pernah mempersoalkan aktivitas mengoreksi dengan terang-terangan. Pasalnya, Al-Quran dan Sunnah telah menetapkan kewajiban amar makruf kepada mereka baik dengan tangan, lisan, dan hati, dan tidak ada takhshish harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nash-nash seperti inilah yang harusnya dijadikan sebagai hukum asal, bukan hadits dla’if riwayat Imam Ahmad dari ‘Iyadl bin Ghanm..
Ana juga perlu ingatkan bahwa judul tulisan yang ana tulis bukan Mengoreksi Penguasa Harus Dengan GAYA TUKUL…??”. Dengan membuat judul seperti itu, sama artinya akh Abu Yahya telah menyetarakan muhasabah al-hukkam generasi salafush sholeh dari kalangan shahabat –yang telah mengoreksi penguasa dengan terang-terangan— dengan apa yang dilakukan oleh Akh Tukul Arwana. Ghafarallahu lakum.
HTI: Namun, sebagian orang bodoh berpendapat bahwa menasehati seorang penguasa haruslah dengan cara sembunyi-sembunyi (empat mata).
Tanggapan: Sebagian orang bodoh ?? betulkah mereka orang bodoh?? Ya.. menuduh memang mudah.. namun Allah yang maha tahu siapa yang sebenarnya bodoh..
Tanggapan Balik:
Ghafarallahu lakum… Semoga Allah mengampuni antum!
HTI: Menurut mereka, seorang Muslim dilarang menasehati mereka dengan terang-terangan di depan umum, atau mengungkapkan kejahatan dan keburukan mereka di depan umum, karena ada dalil yang mengkhususkan.
Tanggapan: Bila yang dimaksud mereka adalah salafiyun, maka mereka berdasarkan dalil dan perbuatan para shahabat dan para ulama. Adapun dalil, maka berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
“Barang siapa yang ingin menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka janganlah terang-terangan , namun ambillah tangannya dan bersendirianlah dengannya (rahasia), jika ia menerima (itu yang diharapkan) dan jika tidak, maka ia telah melaksanakan tugas”. (HR Ahmad, ibnu Ashim dan lainnya).
Adapun perbuatan shahabat, Anas bin Malik berkata: “Para pembesar kami dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami, (mereka berkata): “Janganlah kamu mencaci maki umara, jangan pula mencurangi dan memaksiati mereka”.(Al Hujjah fii bayanil Mahajjah 2/435).
Ziyad bin Kusaib Al ‘Adawi berkata: “Aku bersama Abu Bakrah dibawah mimbar ibnu Amir yang sedang berkhutbah dan memakai pakaian yang tipis, maka Abu Bilaal berkata: “Lihatlah kepada pemimpin kita ini, dia memakai pakaian orang fasiq”. Abu Bakrah berkata: “Diam kamu!! Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menghinakan penguasa di bumi, Allah akan hinakan ia”. (HR At Tirmidzi, Al Bazzaar dan lainnya).
Dikatakan kepada Usamah bin Zaid: “Andai kamu mendatangi fulan (maksudnya Utsman bin Affan) dan mengajaknya bicara”. Usamah berkata: “Sesungguhnya kamu memandang bahwa bila aku mengajaknya bicara, aku harus memperdengarkannya kepada kamu, sesungguhnya aku berbicara dengannya secara rahasia tanpa membuka pintu, dan aku tidak ingin menjadi orang yang pertama kali membukanya”. (HR Bukhari no 3267 dan Muslim no 2989). Dalam riwayat Muslim, Usamah berkata: “Sungguh, aku telah mengajaknya berbicara antara aku dan dia saja..dst”.
Al Qurthubi berkata: “Maksud Usamah adalah bahwa beliau menjauhi berbicara di hadapan manusia, demikianlah yang wajib dalam menegur pembesar dan umara, hendaknya mereka dihormati di hadapan rakyat untuk menjaga kewibawaan mereka, dan menasehatinya secara rahasia, untuk melaksanakan kewajiban menasehati mereka, dan perkataan beliau: ” Sungguh, aku telah mengajaknya berbicara antara aku dan dia saja”. Maksudnya berbicara langsung dengan ucapan yang lemah lembut, sebab yang demikian itu lebih taqwa dari menasehati mereka dengan terang-terangan dan memberontak kepada penguasa, karena amat besar fitnah dan mafsadah yang ditimbulkan akibat menasehati secara terang-terangan”. (Al Mufhim 6/619).
Tanggapan Balik:
Yang dilarang adalah mengoreksi penguasa yang ditujukan atau diniatkan untuk menghina penguasa, bukan mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. Jika mengoreksi penguasa dengan terang-terangan diniatkan untuk menjaga umat dari kejahatan penguasa, maka mengoreksi penguasa secara terang-terangan dalam keadaan seperti itu (untuk menjaga umat dari kejahatan dan kedzaliman penguasa) bukanlah sesuatu yang haram, bahkan fardlu. Sebaliknya, jika mengoreksi penguasa, baik dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan diniatkan untuk menghina penguasa, maka perbuatan itu haram.
Ana perlu tegaskan bahwa perkataan ulama bukanlah dalil syariat. Selain itu, hadits riwayat Imam Ahmad adalah hadits dla’if. Cukuplah bagi kita apa yang dilakukan oleh Nabi saw dan para shahabat yang juga melakukan muhasabah lil hukkam dengan cara terang-terangan. Selain itu, tidak ada satupun ucapan sharih dari ulama-ulama salafush shalih yang menunjukkan bahwa mengoreksi penguasa dengan terang-terangan adalah haram. Larangan yang mereka ucapkan tidak selalu berimplikasi pada hukum haram. Sebab, bentuk kalimat larangan (sighat an-nahyu) tidaklah selalu berimplikasi hukum haram, bisa saja untuk tahdzir, wa’id, taubih, dan lain-lain. Tampaknya hal ini yang antum lupakan, atau sengaja antum sembunyikan. Ghafarallahu lakum.
HTI: Pendapat semacam ini adalah pendapat bathil, dan bertentangan dengan realitas muhasabah al-hukkam yang dilakukan oleh Nabi saw, para shahabat dan generasi-generasi salafus shaleh sesudah mereka.
Tanggapan: Jangan terlalu cepat memvonis saudaraku, karena yang antum fahami itu ternyata bertentangan dengan apa yang difahami oleh para ulama..
Tanggapan Balik:
Ulama yang mana? Sedangkan para shahabat mengoreksi penguasa dengan terang-terangan,, dan telah terjadi ijma’ sukutiy atas masalah ini? Ana khawatir yang antum ikuti itu adalah ulama jahat yang ingin membungkam dakwah Islam atas penguasa-penguasa fajir dan dzalim yang telah mengubah sendi-sendi ajaran Islam, dan tidak memerintahkan manusia menegakkan sholat; atau sengaja untuk menjaga para penguasa bughat yang telah menyebabkan hancurnya Khilafah Islamiyyah dan berusaha menghalang-halangi pejuang-pejuang mukhlish yang berusaha menegakkannya kembali.
HTI: Pasalnya, pendapat tersebut (keharusan mengoreksi pennguasa dengan empat mata) bertentangan dengan point-point berikut ini:

a. Perilaku Rasulullah saw dalam mengoreksi pejabat yang diserahi tugas mengatur urusan rakyat (pemerintahan). Beliau saw tidak segan-segan mengumumkan perbuatan buruk yang dilakukan oleh pejabatnya di depan kaum Muslim, dengan tujuan agar pelakunya bertaubat dan agar pejabat-pejabat lain tidak melakukan perbuatan serupa. Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Abu Humaid As Sa’idiy bahwasanya ia berkata:

اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي سُلَيْمٍ يُدْعَى ابْنَ الْلَّتَبِيَّةِ فَلَمَّا جَاءَ حَاسَبَهُ قَالَ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَلَّا جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا ثُمَّ خَطَبَنَا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَسْتَعْمِلُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ عَلَى الْعَمَلِ مِمَّا وَلَّانِي اللَّهُ فَيَأْتِي فَيَقُولُ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ حَتَّى تَأْتِيَهُ هَدِيَّتُهُ وَاللَّهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَأَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَهُ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبْطِهِ يَقُولُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ بَصْرَ عَيْنِي وَسَمْعَ أُذُنِي

“Rasulullah saw mengangkat seorang laki-laki menjadi amil untuk menarik zakat dari Bani Sulaim. Laki-laki itu dipanggil dengan nama Ibnu Luthbiyyah. Tatkala tugasnya telah usai, ia bergegas menghadap Nabi saw; dan Nabi Mohammad saw menanyakan tugas-tugas yang telah didelegasikan kepadanya. Ibnu Lutbiyah menjawab, ”Bagian ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang telah diberikan orang-orang (Bani Sulaim) kepadaku. Rasulullah saw berkata, ”Jika engkau memang jujur, mengapa tidak sebaiknya engkau duduk-duduk di rumah ayah dan ibumu, hingga hadiah itu datang sendiri kepadamu”. Beliau saw pun berdiri, lalu berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Setelah memuji dan menyanjung Allah swt, beliau bersabda, ”’Amma ba’du. Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk menjadi amil dalam berbagai urusan yang diserahkan kepadaku. Lalu, ia datang dan berkata, ”Bagian ini adalah untukmu, sedangkan bagian ini adalah milikku yang telah dihadiahkan kepadaku”. Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur? Demi Allah, salah seorang di antara kalian tidak akan memperoleh sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah swt dengan membawanya. Ketahuilah, aku benar-benar tahu ada seseorang yang datang menghadap Allah swt dengan membawa onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik. Lalu, Nabi saw mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah swt, hingga aku (perawi) melihat putih ketiaknya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas adalah dalil sharih yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah saw pernah menasehati salah seorang pejabatnya dengan cara mengungkap keburukannya secara terang-terangan di depan khalayak ramai. Beliau saw tidak hanya menasehati Ibnu Luthbiyyah dengan sembunyi-sembunyi, akan tetapi, membeberkan kejahatannya di depan kaum Muslim. Lantas, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa haruslah dengan sembunyi-sembunyi (empat mata), sedangkan Nabi saw, manusia yang paling mulia akhlaqnya, justru menasehati salah satu pejabatnya (penguasa Islam) dengan terangan-terangan, bahkan diungkap di depan khalayak ramai?
Tanggapan: Itu karena antum kurang memahami hakikat qiyas, karena di sini antum menyamakan apa yang dilakukan oleh Nabi sebagai penguasa kepada pegawainya, dengan menasehati penguasa yang dilakukan oleh rakyatnya.. dan qiyas seperti ini adalah batil karena ia adalah qiyas yang amat jauh berbeda, selain itu qiyas antum ini bertabrakan dengan dalil yang melarang menasehati penguasa secara terang-terangan..
Tanggapan Balik:
Apa yang diucapkan, dikerjakan, dan disetujui Nabi adalah hujjah yang wajib diikuti. Ibnu Luthbiyyah adalah seorang penguasa. Nabi saw dalam hal ini berkedudukan sebagai Nabi sekaligus Rais ad Daulah. Dalam konteks asal, apa yang beliau lakukan adalah hujjah bagi kaum Muslim, baik rakyat maupun penguasa; dan tidak dikhususkan hanya untuk penguasa saja. Memang dalam konteks tertentu apa yang dilakukan Nabi saw hanya boleh ditiru oleh penguasa saja, semisal memotong tangan pencuri, rajam bagi pezina dan lain-lain. Namun, dalam hal mengoreksi penguasa dengan terang-terangan tidak harus dilakukan oleh penguasa yang lebih atas kepada penguasa yang lebih bawah, tapi bisa dilakukan oleh semua orang. Pasalnya, dalil-dalil umum telah menunjukkan masyru’nya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. Dengan demikian kisah koreksi Nabi saw atas Ibnu Luthbiyyah adalah hujjah jaliyah atas masyru’nya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan,
HTI : b. Ada perintah dari Nabi saw agar kaum Muslim memberi nasehat kepada para penguasa fajir dan dzalim secara mutlak. Imam Al Hakim dan Ath Thabaraniy menuturkan riwayat dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
سيد الشهداء عند الله يوم القيامة حمزة بن عبد المطلب ورجل قام إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله
“Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. [HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy]
Hadits ini datang dalam bentuk umum. Hadits ini tidak menjelaskan secara rinci tatacara mengoreksi seorang penguasa; apakah harus dengan sembunyi-sembunyi atau harus dengan terang-terangan. Atas dasar itu, seorang Muslim dibolehkan menasehati penguasa dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi (empat mata). Hadits ini tidak bisa ditakhshih dengan hadits-hadits yang menuturkan tentang muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) dengan empat mata. Pasalnya, hadits-hadits yang menuturkan tentang menasehati penguasa dengan empat mata adalah hadits dla’if. (Penjelasannya lihat di point berikutnya).
Tanggapan: Itu karena antum mendla’ifkan hadits yang sebenarnya hasan atau shahih yaitu hadits yang menjelaskan tata cara menasehati penguasa yaitu tidak boleh secara terangan-terangan, karena akibat antum kurang sungguh-sungguh mencari jalan-jalan lainnya yang antum tidak ketahui sebagaimana yang akan diterangkan.. maka nasehat saya jangan tergesa-gesa memvonis.. sebab perbuatan itu sama saja membongkar kebodohan antum sendiri..
Tanggapan Balik:
Hadits di atas adalah dalil umum untuk muhasabah lil hukkam, dan tidak ada dalil yang mentakhshishnya. Seandainya riwayat Imam Ahmad itu shahih –seperti pendapat antum, walaupun padahal dla’if–, maka hadits itu juga tidak bisa mentakhshish keumuman hadits yang berbicara tentang mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. Sebab, tidak semua kalimat yang berbentuk larangan (di dalam al Quran dan Sunnah) pasti berimplikasi hukum haram. Sighat nahyu bisa saja berimplikasi tahrim, karahah, tahqiir, bayaan al-‘aqibah, ad-du’a, al-ya’su, al-irsyad, dan lain-lain, Larangan yang tersebut di dalam hadits Imam Ahmad hanya menunjukkan makna al-irsyad dan rukhshah belaka. Indikasinya adalah kalimat yang disebut dalam hadits tersebut:: (1) frase , “wa illa qad aday al-ladziy ‘alaihi lahu” (dan jika tidak, maka dia telah menunaikan apa yang telah diwajibkan kepadanya bagi penguasa itu). Frase ini justru menunjukkan kewajiban mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. Maksudnya, jika seseorang tidak mampu mengoreksi penguasa dengan terang-terangan, maka, menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi sudah dianggap cukup dan bisa menghapus dosa “berdiam diri terhadap kemaksiyatan yang dilakukan oleh penguasa”. Dalam hadits ini tidak ada indikasi yang menunjukkan haramnya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. (2) perkataan ‘Iyadl bin Ghanm, “Sesungguhnya, engkau ya Hisyam, kamu sungguh berani, karena engkau berani kepada penguasanya Allah. Lalu, tidakkah engkau takut dibunuh oleh penguasanya Allah, dan engkau menjadi orang yang terbunuh oleh penguasa Allah tabaaraka wa ta’aala”, menunjukkan bahwa beliau sedang mengingatkan saudaranya Hisyam bin Hakim tentang bahaya atau resiko yang akan diterimanya jika menasehati penguasa dengan terang-terangan, bukan mengingatkan atas kemaksiyatan yang dilakukan oleh Hisyam bin Hakim. Ini menunjukkan bahwa ‘Iyadl bin Ghanm pun tahu bahwa menasehati penguasa dengan sembunyi-sembunyi adalah rukhshah (keringanan), sedangkan yang wajib dan paling asal adalah mengoreksi penguasa dengan terang-terangan.
Walhasil, hukum bolehnya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan tidak bisa dikhususkan oleh hadits itu. Sebab, ada kalanya mengoreksi penguasa dengan diam2 itu baik dalam satu kondisi, namun tidak baik untuk kondisi yang lain; begitu juga sebaliknya.
Ana harus nyatakan bahwa semua jalur, termasuk jalur yang antum ketengahkah di bagian akhir bantahan ini juga terbukti lemahnya. Insya Allah, ana akan jelaskan kelemahannya.
HTI: c. Ada perintah dari Rasulullah saw untuk mengoreksi (muhasabah) penguasa hingga taraf memerangi penguasa yang melakukan kekufuran yang nyata (kufran bawahan). Nabi saw memerintahkan para shahabat untuk mengoreksi penguasa dengan pedang, jika telah tampak kekufuran yang nyata. Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:
دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untu selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.”[HR. Imam Bukhari]
Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Akan datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim]
Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, “Di dalam hadits ini terkandung mukjizat nyata mengenai kejadian yang akan terjadi di masa depan, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw….Sedangkan makna dari fragmen, “”Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat,” jawab Rasul; adalah ketidakbolehan memisahkan diri dari para khalifah, jika mereka sekedar melakukan kedzaliman dan kefasikan, dan selama mereka tidak mengubah satupun sendi-sendi dasar Islam.”
Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu seorang Muslim wajib mengoreksi penguasa dengan terang-terangan bahkan dengan pedang, jika para penguasanya melakukan kekufuran yang nyata. Hadits-hadits di atas juga menjelaskan bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa-penguasa yang melakukan kekufuran yang nyata. Selain itu, riwayat di atas juga menunjukkan bahwa menasehati penguasa boleh dilakukan dengan pedang, jika penguasa tersebut telah menampakkan kekufuran yang nyata. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi (empat mata) dan tidak boleh dilakukan dengan terang-terangan?
Tanggapan: Hadits itu berbicara mengenai mengganti hakim yang telah kafir dan keluar dari islam dan tidak berbicara tentang cara menasehati penguasa, dan yang kita fahami dari perkataan An Nawawi yang antum bawakan bahwa hakim yang melakukan kezaliman dan kefasiqan maka kita dilarang membangkang dari penguasa seperti itu, tidak pula menasehatinya secara terang-terangan.. dan berhukum dengan hukum selain Allah bukanlah perkara yang membuat pelakunya keluar dari millah islam secara mutlak sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Oleh karena itu tidak ada satupun ulama yang memahami dari hadits di atas bolehnya menasehati penguasa secara terangan-terangan, dan yang antum katakan itu berasal dari kantong antum sendiri..
Tanggapan Balik:
Kesimpulan antum itu dikarenakan antum tidak melihat keseluruhan 2 hadits yang ana ketengahkan. Pada hadits kedua yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan kata “wa man ankara salima..” Mengingkari penguasa yang tersebut dalam hadits di atas bisa saja dilakukan dengan hati, perbuatan, dan perkataan. Hadits di atas berlaku untuk para penguasa yang masih menegakkan system Islam, dan menjalankan syariat Islam sebagai aturan yang
Ana juga setuju bahwa kita tidak boleh menghukumi kafir orang yang menyimpang dari syariat, atau menerapkan hukum kufur. Semua harus dikembalikan kepada i’tiqadnya atas perbuatan menyimpang itu. Jika ia menerapkan hukum kufur itu atas pengetahuannya dan disertai dengan keyakinan, maka ia telah kafir. Sebaliknya, jika tidak disertai i’tiqad maka dia tidak boleh dihukumi kafir. Ya akh, tolong antum jawab, apa hukum penguasa yang berkata dengan terang-terangan bahwa mereka menyakini kebenaran demokrasi, sekulerisme, dan nasionalisme, bahkan bersumpah untuk membela dan mempertahankan system taghut, bekerjasama dengan orang-orang kafir bahkan rela membunuhi saudara-saudara Mukminnya?
HTI: d. Realitas muhasabah yang dilakukan oleh para shahabat ra terhadap para penguasa. Apabila kita meneliti secara jernih dan mendalam realitas muhasabah hukam yang dilakukan oleh shahabat ra, dapatlah disimpulkan bahwa mereka melakukan muhasabah dengan berbagai macam cara, tidak dengan satu cara saja.
Tanggapan: Sekali lagi, jangan terlalu gegabah mengambil kesimpulan hanya karena kisah yang antum bawakan itu kebetulan sesuai dengan hawa nafsu, kewajiban kita adalah melihat keadaan suatu kisah dan menimbangnya dengan dalil, agar kita dapat memahaminya dengan benar..
Tanggapan Balik:
Berdasarkan hawa nafsu? Lalu apakah antum tidak melihat bagaimana tatacara shahabat mengoreksi penguasa saat itu, dan juga yang dilakukan oleh para ulama salafush shalih?
HTI: Riwayat-riwayat berikut ini menjelaskan kepada kita bagaimana cara-cara muhasabah yang mereka lakukan.
• Di dalam Kitab Al Bidayah wa An Nihayah, juz 8, hal. 217, disebutkan bahwasanya Imam Al Huda al-Husain bin ‘Ali ra, pemimpin pemuda ahlul jannah, memisahkan diri (khuruj) dari penguasa fajir Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Husain ra dibai’at oleh penduduk Kufah pada tahun 61 H. Beliau ra juga mengutus anak pamannya, Muslim bin ‘Aqil ra untuk mengambil bai’at penduduk Kufah untuk dirinya. Dan tidak kurang 18 ribu orang membai’at dirinya. Dan di dalam sejarah, tak seorang pun menyatakan bahwa Imam Husain ra dan penduduk Kufah pada saat itu termasuk firqah (kelompok) yang sesat )”.[Al Bidayah wa An Nihayah, juz 8/217] Inilah cara yang dilakukan oleh Imam Husain bin ‘Ali ra untuk mengoreksi (muhasabah) kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyyah.
Tanggapan: Aneh, mengapa antum tidak membawakan juga pengingkaran para shahabat terhadap perbuatan Husain tsb, padahal ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah menyebutkan shahabat-shahabat yang mengingkari Husain, yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id Al Khudri, Jabir bin Abdillah, Abu Waqid Al laitsi (Al Bidayah wan Nihayah 8/163 cet Maktanah Al Ma’arif) juga pengingkaran kibar tabi’in terhadap Husain seperti Sa’id bin Musayyib dan Abu Salamah bin Abdurrahman.. dan bukankah dalam kisah yang dikisahkan oleh ibnu Katsir menyebutkan bahwa Husain sebenarnya tertipu oleh Ahli Kufah yang meminta agar Husain datang kepada mereka..
Adapun perkataan antum bahwa tidak ada seorangpun menyatakan bahwa Al Husain termasuk firqah sesat, itu karena beliau melakukan perbuatan tersebut bukan karena mengikuti hawa nafsu namun karena ijtihad beliau yang salah, berbeda dengan kalian yang berusaha mencari-cari dalil yang sesuai dengan hawa nafsu.. yang seharusnya kewajiban kalian adalah mengikuti para ulama sunnah dalam masalah-masalah besar seperti ini..
Tanggapan Balik:
Tanggapan antum itu jelas menunjukkan bahwa antum tidak konsisten dalam berdalil. Di satu sisi antum mencela mengoreksi penguasa dengan terang2an, tapi, pada saat ana ketengahkan hujjah jaliyyah bagaimana shahabat besar mengoreksi khalifahnya dengan terang-terangan, namun antum malah membela perbuatan mereka dengan alasan ijtihadnya boleh salah ? Namun giliran ikhwan-ikhwan Hizbut Tahrir yang mengoreksi penguasa secara terang-terangan sama persis seperti yang dilakukan oleh shahabat-shahabat besar itu, antum bilangnya berdasarkan hawa nafsu! Padahal, apa yang dilakukan ikhwan-ikhwan Hizbut Tahrir adalah mencontoh perbuatan shahabat dan juga berdasarkan hujjah qawwiyah, bukan berdasarkan hawa nafsu seperti yang antum tuduhkan. Semoga Allah menunjukki antum dan membersihkan hati antum dari sifat-sifat keji seperti itu. . Pengingkaran Ibnu ‘Abbas, dan lain-lain terhadap Husein bin Ali bukan karena apa yang dilakukan oleh Husein bin Ali itu berhukum haram –seperti pandangan antum yang mengharamkan muhasabah lil hukkam dengan terang2an)— namun dikarenakan Ibnu Abbas khawatir akan pengkhianatan penduduk Kufah. Seandainya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan haram, niscaya Husein bin Ali rahmatullahi wa baarakatuhu ‘alaih tidak akan keluar menuju Kufah. Jelas sudah, bahwa mengoreksi penguasa itu hukum asalnya disampaikan dengan terang-terangan!
HTI: • Sebelum Imam Husain bin ‘Ali ra, kaum Muslim juga menyaksikan Ummul Mukminin ‘Aisyah ra yang memimpin kaum Muslim untuk khuruj dari Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Inilah cara Ummul Mukminin ‘Aisyah ra mengoreksi Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Hingga akhirnya, meletuslah peperangan yang sangat besar dan terkenal dalam sejarah umat Islam, Perang Jamal.
Tanggapan: Ini juga kesalahan pemahaman antum, karena kepergian Aisyah sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Katsir adalah untuk meminta agar para pembunuh Utsman di qishash, dan kepergian Aisyah ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kesalahan perbuatannya, ibnu Katsir menuturkan: “mereka (pasukan Aisyah) melewati sebuah perkampungan yang bernama Hau-ab, lalu anjing-anjing di situ menggonggonginya, maka ketika Aisyah mendengar suara anjing itu, beliau bertanya: “Apa nama tempat ini? Mereka berkata: “Hau-ab”. Lalu Aisyah memukulkan salah satu tangannya kepada yang lainnya dan berkata: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raji’un, aku harus kembali”. Mereka berkata: “Mengapa?” Aisyah berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada istri-istrinya:
أَيَّتُكُنَّ تَنْبَحُ عَلَيْهَا كِلَابُ الْحَوْأَبِ
“Siapakah di antara kalian yang digonggongi oleh anjing-anjing Hau-ab”. (HR Ahmad).Kemudian Aisyah memukul lengan untanya agar duduk, beliau berkata: “Kembalikan aku! Kembalikan aku! Demi Allah ternyata aku yang digonggongi ajing-anjing Hau-ab.. (Al Bidayah wan Nihayah 7/231-232 cet. Maktabah Al Ma’arif).
Tanggapan Balik:
Wahai akhi, itulah yang disebut dengan muhasabah lil hukkam! Jelas bahwa ‘Aisyah ra melakukan muhasabah dengan terang-terangan! Meminta agar penguasa menerapkan hukuman qishash atas pembunuh Utsman jelas-jelas merupakan tindakan mengoreksi penguasa. Pasalnya, ‘Ali bin Abi Thalib ra menunda pelaksanaannya. Selain itu, jika perbuatan ‘Aisyah ra tersebut bukan ditujukan untuk mengoreksi penguasa, niscaya ia tidak akan disertai oleh pasukan perang, hingga akhirnya meletus perang Jamal.
HTI: • Ketika Umar bin Khaththab ra berkhuthbah di hadapan kaum Muslim, setelah beliau diangkat menjadi Amirul Mukminin, beliau berkata, “Barangsiapa di antara kalian melihatku bengkok, maka hendaklah dia meluruskannya”. Seorang laki-laki Arab berdiri dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, jika kami melihatmu bengkok, maka kami akan meluruskannya dengan tajamnya pedang kami”.
Tanggapan: sayangnya anda tidak membawakan sanad kisah tersebut, dan menelitinya apakah kisah tersebut shahih atau tidak. Kisah seperti ini kalaupun shahih, tidak bisa dijadikan hujjah, karena perbuatan laki-laki arab itu bertentangan dengan petunjuk Nabi dalam menasehati pemimpin, namun boleh jadi antum berkata: “Tetapi Umar tidak mengingkarinya”. Kita jawab: “Diamnya Umar boleh jadi karena si arab itu lelaki yang bodoh, sedangkan Allah menyuruh kita untuk berpaling dari orang yang bodoh, dan tidak membalasnya dengan kebodohan. Sebagaimana di sebutkan dalam kisah bahwa ‘Uyainah pernah berkata kepada Umar: “Wahai ibnul Khathab! Kamu tidak mau memberi kami banyak dan tidak pula menghukumi dengan adil, maka Umar marah namun diingatkan oleh Al Hurr dengan ayat yang menyuruh untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh..(HR Bukhari).
Maka hikayat perbuatan seperti ini disebut dalam ushul fiqih sebagai waqa’iul a’yaan yang tidak bermakna umum.
Tanggapan Balik:
Antum bilang hal ini waqi’ul hayaan dan bertentangan dengan petunjuk Nabi dalam menasehati penguasa? Antum berkesimpulan seperti itu disebabkan karena antum punya pandangan bahwa muhasabah lil hukkam itu harus rahasia karena ada hadits yang menunjukkan. Padahal hadits itu lemah. Seandainya antum tidak berpandangan seperti itu, niscaya antum tidak akan mengetengahkan kesimpulan premature tersebut. Yang benar, hukum asal muhasabah lil hukkam itu dilakukan dengan terang-terangan, dan boleh dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ketentuan seperti ini didasarkan pada dalil-dalil umum yang berbicara tentang menasehati penguasa. Adapun riwayat Imam Bukhari yang antum ketengahkan itu sama sekali tidak berhubungan dengan haramnya mengoreksi penguasa dengan terang-terangan. Sebab, bolehnya melakukan muhasabah lil hukkam baik dengan terang-terangan maupun sembunyi ditetapkan berdasarkan nash-nash umum. Contohnya adalah; perhatikan hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah meridloi kalian tiga hal, dan membenci kepada kalian tiga hal. Allah swt meridloi kalian beribadah kepadaNya semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun; kalian berpegang teguh dengan tali Allah secara bersama-sama; dan kalian menasehati orang yang mengatur urusan kalian (penguasa). Dan Allah membenci untuk kalian, qiila wa qaala, terlalu banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta”.[HR. Imam Bukhari dalam Adab al-Mufrad, dan Imam Muslim], dan masih banyak lagi.
Ana perlu terangkan lagi, bahwa perkataan dan perbuatan shahabat bukanlah dalil syariat. Yang wajib dijadikan dalil syariat adalah al-Quran, Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Kisah itu menunjukkan para shahabat memahami bahwa mengoreksi penguasa itu boleh dilakukan secara terang-terangan atau rahasia, berdasarkan nash-nash umum, bukan karena yang lain. Dan kita diperkenankan taqlid kepada mereka dalam masalah hukum syariat yang mereka istinbathkan dari dalil umum. Apa yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab ra tentu saja berdasarkan dalil, bukan karena hawa nafsu.
HTI: • Pada saat Umar bin Khaththab ra mengenakan baju dari kain Yaman yang di dapat dari harta ghanimah. Beliau ra kemudian berkhuthbah di hadapan para shahabat dengan baju itu, dan berkata, “Wahai manusia dengarlah dan taatilah…” Salman Al Farisi ra, seorang shahabat mulia berdiri seraya berkata kepadanya, “Kami tidak akan mendengar dan mentaatimu”. Umar berkata, “Mengapa demikian?” Salman menjawab, “Dari mana kamu mendapat pakaian itu, sedangkan kamu hanya mendapat satu kain, sedangkan kamu bertubuh tinggi? Beliau menjawab, “Jangan gesa-gesa, lalu beliau memanggil, “Wahai ‘Abdullah”. Namun tidak seorang pun menjawab. Lalu beliau ra berkata lagi, “Wahai ‘Abdullah bin Umar..”. ‘Abdullah menjawab, “Saya wahai Amirul Mukminin”. Beliau berkata, “Bersumpahlah demi Allah, apakah kain yang aku pakai ini kainmu? Abdullah bin Umar menjawab, “Demi Allah, ya”. Salman berkata, “Sekarang perintahlah kami, maka kami akan mendengar dan taat”. [‘Abdul ‘Aziz Al Badriy, Al-Islam bain al-‘Ulama’ wa al-Hukkam Ihitam Putih Wajah Ulama dan Penguasa.terj), hal. 70-71]
Tanggapan: Anda pun tidak membawakan sanadnya untuk dapat diperiksa apakah shahih atau tidak, memang demikian keadaan pengikut hawa nafsu, ketika ia mendapatkan kabar yang sesuai dengan hawa nafsunya, segera diambilnya tanpa melihat apakah kisah itu shahih atau tidak..
Kalaupun kisah itu shahih, tidak dapat dijadikan hujjah, karena perbuatan shahabat itu bila bertentangan dengan dalil, tidak dapat diterima. Terlebih Di sini Salman hanya ingin tatsabbut saja mengenai dua pakaian yang diambil oleh Umar, dan Umar seorang pemimpin yang adil membiarkan Salman berbuat demikian karena ketawadlu’an beliau, dan bukan berarti perbuatan menasehati penguasa secara terang-terangan diperbolehkan, karena kisah ini hanyalah hikayat perbuatan, dan sebagaimana telah disebutkan dalam ushul fiqih bahwa sebatas hikayat perbuatan mengandung banyak kemungkinan, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah, lebih-lebih bila bertentangan dengan dalil.
Tanggapan Balik:
Perbuatan shahabat di atas, baik Salman maupun Umar tentu saja tidak bertentangan dengan dalil. Pasalnya ada dalil umum yang menunjukkan bolehnya mengoreksi penguasa baik dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Memang benar, apa yang dilakukan oleh Salman dan Umar bukanlah dalil syariat. Tetapi, perbuatan yang mereka lakukan tentu saja berdasarkan dalil yang mereka pahami, baik dari al-Quran maupun sunnah. Bisa jadi keduanya menyandarkan perbuatannya itu berdasarkan nash-nash umum yang berbicara tentang menasehati penguasa, misalnya hadits yang diriwayatkan dari Abu ‘Abdillah Thariq bin Syihab al-Bailiy al-Ahmasy ra, bahwasanya ada seorang laki2 bertanya kepada Nabi saw, “Jihad apa yang paling utama? Nabi menjawab, “Kalimat haq yang disampaikan di hadapan penguasa jahat”. [Imam An Nasaaiy, isnadnya shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqiy]. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir ra, “…..Nabi bersabda, “Berbai’atlah kalian kepadaku untuk selalu mendengar dan taat baik dalam keadaan lapang maupun malas, berinfaq dalam keadaan susah maupun mudah, dan agar melakukan amar makruf nahi ‘anil mungkar, dan kalian kalian selalu berkata karena Allah: Tidak pernah takut celaan manusia [dalam menyampaikan kebenaran]”. [Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim]
Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan ijtihad, maka ia boleh taqlid kepada ulama yang faqih, seperti Umar dan Salman al-Farisi.
HTI: • Amirul Mukminin Mu’awiyyah berdiri di atas mimbar setelah memotong jatah harta beberapa kaum Muslim, lalu ia berkata, “Dengarlah dan taatilah..”. Lalu, berdirilah Abu Muslim Al Khulani mengkritik tindakannya yang salah, “Kami tidak akan mendengar dan taat wahai Mu’awiyyah!”. Mu’awiyyah berkata, “Mengapa wahai Abu Muslim?”. Abu Muslim menjawab, “Wahai Mu’awiyyah, mengapa engkau memotong jatah itu, padahal jatah itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ibu bapakmu? Mu’awiyyah marah dan turun dari mimbar seraya berkata kepada hadirin, “Tetaplah kalian di tempat”. Lalu, dia menghilang sebentar dari pandangan mereka, lalu keluar dan dia sudah mandi. Mu’awiyyah berkata, “Sesungguhnya Abu Muslim telah berkata kepadaku dengan perkataan yang membuatku marah. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Kemarahan itu termasuk perbuatan setan, dan setan diciptakan dari api yang bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia mandi”. Sebenarnya saya masuk untuk mandi. Abu Muslim berkata benar bahwa harta itu bukan hasil jerih payahku dan bukan pula jerih payah ayahku, maka ambillah jatah kalian”.[Hadits ini dituturkan oleh Abu Na’im dalam Kitab Al-Khiyah, dan diceritakan kembali oleh Imam Al Ghazali dalam Kitab Al Ihya’, juz 7, hal. 70]
Tanggapan: Kisah itu dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (2/130) dari jalan Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz dari Yasin bin Abdillah bin Urwah dari Abu Muslim Al Kahulani. Dan sanad ini lemah karena Yasin bin Abdullah ini tidak diketahui siapa ia, sedangkan Abdul Majid padanya terdapat kelemahan, Ibnu Hajar berkata: “Shaduq yukhti”. Dan ibnu Hibban berkata: “Mungkar hadits jiddan, suka membalikan kabar dan meriwayat hadits-hadits yang mungkar dari paerawi-perawi masyhur sehingga berhak untuk ditinggalkan”. (Al Majruhin 2/152). Karena kisah ini lemah maka tidak bias dijadikan hujjah.
HTI: • Seorang ulama besar, Syaikh Mundzir bin Sa’id mengkritik sangat keras Khalifah Abdurrahman An Nashir Lidinillah ra yang telah menguras harta pemerintahan untuk mempermegah dan memperindah kota Az Zahra. Ulama besar ini mengkritik sang Khalifah dalam khuthbah Jum’atnya secara terang-terangan di depan Khalifah An Nashir dan dihadiri orang penduduk kota Az Zahra. [Abdul Hamid Al Ubbadi, Min Akhlaq al-‘Ulamaa’, Majalah Al Azhar, Ramadhan, 1371 H]
• Dalam Kitab Qalaaid Al Jawaahir disebutkan bahwasanya Syaikh Abdul Qadir Al Kailaniy berdiri di atas mimbar untuk mengkritik dan memberikan nasehat kepada Gubernur Yahya bin Sa’id yang terkenal dengan julukan Abnu Mazaahim Adz Dzaalim Al Qadla. Syaikh Abdul Qadir Al Kailaniy berkata, “Semoga orang Islam tidak dipimpin oleh oirang yang paling dzalim; maka apa jawabanmu kelak ketika menghadap Tuhan semesta alam yang paling pengasih? Gubernur itu gemetar dan langsung meninggalkan apa yang dinasehatkan kepadanya”. [Qalaaid Al Jawaahir, hal. 8]
• Sulthan al-’Ulama, Al ‘iz bin Abdus Salam telah mengkritik Raja Ismail yang telah bersekongkol dengan orang-orang Eropa Kristen untuk memerangi Najamuddin bin Ayyub. Ulama besar ini tidak hanya membuat fatwa, tetapi juga mengkritik tindakan Raja Ismail di depan mimbar Jum’at di hadapan penduduk Damaskus. Saat itu Raja Ismail tidak ada di Damaskus. Akibat fatwa dan khuthbahnya yang tegas dan lurus, Al ‘Iuz ‘Abdus Salam dipecat dari jabatannya dan dipenjara di rumahnya. [As Subki, Thabaqat, dan lain-lain]
Tanggapan: Kisah-kisah ini kalaupun benar tidak bisa dijadikan hujah, karena perbuatan ulama bukan dalil, lebih-lebih bila bertentangan dengan dalil. Dalil itu adalah Al Qur’an dan sunnah, terlebih kisah itu masih diragukan, karena kisah tersebut tidak disebutkan dalam kitab-kitab mu’tabar.
HTI: Kisah-kisah di atas menunjukkan bagaimana cara para ulama shalih dan mukhlish menasehati penguasa-penguasanya. Kisah-kisah semacam ini sangat banyak disebut di dalam kitab-kitab tarikh. Mereka tidak segan-segan untuk menasehati para penguasa menyimpang dan dzalim secara terang-terangan, mengkritik kebijakannya di mimbar-mimbar terbuka, maupun fatwa-fatwanya.
Tanggapan: Kisah-kisah seperti itu tidak banyak dilakukan oleh ulama, terlebih ulama salaf terdahulu, justru kebalikannya itulah yang banyak, bila kita baca sejarah para ulama, akan kita dapati mereka adalah orang yang paling melarang membangkang kepada penguasa, seperti kisah yang terjadi pada zaman imam Ahmad bin hanbal rahimahullah, Hanbal mengisahkan bahwa para Fuqoha Baghdad di Zaman kepemimpinan Al Watsiq berkumpul kepada Abu ‘Abdillah (imam Ahmad), mereka berkata,” Sesungguhnya fitnah ini telah menjadi besar dan tersebar (yaitu pemikiran bahwa Al Qur’an itu makhluk dan kesesatan lainnya) dan kami tidak rela dengan kepemimpinan Al Watsiq dan kekuasaannya “.
Imam Ahmad berdialog dengan mereka dalam perkara ini, beliau berkata,” Hendaklah kalian mengingkari dengan hati kalian dan jangan melepaskan diri dari keta’atan, jangan memecah belah kaum muslimin, dan jangan menumpahkan darah kaum muslimin bersama kalian. Lihatlah akibat buruk perbuatan kalian, dan bersabarlah sampai beristirahat orang yang baik dan diistirahatkan dari orang yang jahat “. Beliau berkata lagi,” Perbuatan ini (pemberontakan) tidak benar dan menyelisihi atsar (sunnah) “.[1]
Para fuqaha yang banyak itu sepakat dengan imam Ahmad setelah ditegakkan hujjah oleh imam Ahmad, padahal imam Ahmad disiksa oleh penguasa di zamannya. Coba bandingkan dengan perbuatan firqah HTI, apakah perbuatan mereka seperti yang dilakukan oleh imam Ahmad dan para fuqaha??!
Tanggapan Balik:
Semoga Allah menunjuki antum. Wahai akhiy, perkataan Imam Ahmad di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau mengharamkan menasehati penguasa dengan terang-terangan, atau mengharamkan khuruj diri dari penguasa dalam keadaan tertentu. Sebab, perkataan dengan menggunakan shighat nahyi belum tentu bermakna keharaman. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits-hadits yang berbicara tentang menasehati penguasa secara umum [kalimat ‘adl ‘inda sulthan jaair), dan beliau juga mengetahui hadits-hadits yang menuturkan wajibnya memisahkan diri dari penguasa-penguasa yang telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata (kufran bawahan). Beliau juga memahami kisah-kisah khurujnya para shahabat dan bagaimana tata cara mereka menasehati penguasa. Jadi, kesimpulan yang menyatakan bahwa Imam Ahmad sepaham dengan antum adalah keinginan antum untuk membenarkan pendapat ringkih antum!
Hizbut Tahrir pun menyakini dan membenarkan bahwa memisahkan diri dari Khalifah tanpa alasan yang haq, memecah belah persatuan kaum Muslim, dan membunuh kaum Muslim tanpa alasan yang jelas adalah haram dan harus dijauhi, sebagaimana maqalah Imam Ahmad rahimahullah. Kami juga berpandangan bahwa mentaati Khalifah yang fasiq dan dzalim adalah kewajiban. Bahkan seorang Muslim dilarang memisahkan diri dari Khalifah yang sah, meski dzalim dan fasiq. Namun, jika Khalifah telah menampakkan kekufuran yang nyata maka tidak ada ketaatan kepadanya, bahkan jika memungkinkan harus dikoreksi dengan pedang. Inilah pandangan lurus yang dipegang oleh ikhwan-ikhwan Hizbut Tahrir (rahmatullahi ‘alaihim wa baarakatuhu), sebagaimana pandangan Imam Ahmad.
Sedangkan nasehat Imam Ahmad — yang antum catut untuk membenarkan pandangan antum yang keliru itu–, sebenarnya ditujukan agar kaum Muslim pada saat itu tidak tertimpa resiko yang besar akibat menasehati penguasa yang dzalim dan fasiq, Perkataan beliau ra sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau melarang menasehati penguasa dengan terang-terangan. Pasalnya, beliau meriwayatkan hadits-hadits umum tentang amar makruf dengan tangan, lisan, dan hati.
Dan perlu ana sampaikan, maqalah Imam Ahmad tersebut ditujukan untuk Khalifah yang masih menerapkan sistem Khilafah dan menerapkan syariat Islam, dan sama sekali tidak ditujukan untuk para penguasa sekarang yang jelas-jelas telah mengubah sendi-sendi Islam dan suka bersekongkol dengan penguasa-penguasa kafir. Waqi’ al-hadiitsahnya (realitas kejadiaannya) berbeda. Jika realitasnya berbeda berarti antum tidak bisa menganalogkannya dengan penguasa sekarang. Wallahu al-musta’an wahuwa waliyu at-taufiq.
HTI: Lalu, bagaimana bisa dinyatakan bahwa menasehati penguasa haruslah dengan empat mata saja, sementara ulama-ulama yang memiliki ilmu dan ketaqwaannya justru memilih melakukannya dengan terang-terangan dan terbuka?
Tanggapan: Para ulama yang antum ikuti itu tidak jelas kebenaran sanadnya, antum hanya sebatas membeo dan tidak meneliti kebenarannya, namun demikianlah sifat pengikut hawa nafsu.. sementara kisah-kisah ulama yang jelas sesuai dengan sunnah dalam menasehati penguasa, antum tutup-tutupi, hanya untuk mengelabui orang awam.
Tanggapan Balik:
Berkali-kali harus ana sampaikan bahwa hukum asal menasehati penguasa adalah dilakukan dengan terang-terangan, berdasarkan keumuman nash-nash Al-Quran dan Sunnah yang berbicara tentang amar makruf nahi ‘anil mungkar. Pendapat ini dipegang oleh para shahabat, dan juga dipahami oleh para ulama mu’tabar, melalui riwayat-riwayat yang mereka tuturkan. Jadi sebuah tuduhan dan kebohongan jka antum menuduh HT mengikuti ulama yang tidak bersanad ilmu! Malah, kami meragukan apa guru-guru antum itu punya sanad ilmu; atau jangan-jangan hanya belajar kitab-kitab doing! Ini terlihat betapa seringnya guru-guru antum memberi fatwa hukum yang justru memperkuat penguasa-penguasa sekarang, dengan cara menukil secara keliru pendapat ulama mu’tabar!
HTI: Kelemahan hadits riwayat Imam Ahmad. Nash-nash qath’iy telah menunjukkan kepada kita bahwa hukum asal nasehat itu harus disampaikan secara terang-terangan, dan tidak boleh sembunyi-sembunyi. Al Quran dan Sunnah telah menyebut masalah ini dengan sangat jelas.
Tanggapan: Qath’iy yang anda kira ternyata lebih lemah dari sarang laba-laba, karena dalil-dalil yang anda bawakan telah kita jelaskan kelemahannya dalam memahaminya..
Tanggapan Balik:
Pendapat antum itulah yang ringkih dan lapuk seperti rumah anai-anai! Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hukum asal mengoreksi penguasa itu secara terang-terangan, berdasarkan nash-nash Quran. Ana tidak menyebutkan semua tapi hanya sebagian kecil saja. Misalnya firman Allah swt
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.[TQS Ali Imron (3):110]
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[TQS At Taubah (9):71]
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.[TQS An Nahl (16):36]
“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik. .[TQS Al Maidah (5):78-81]
Pastilah antum akan mengatakan bahwa ayat-ayat ini hanya berbicara tentang amar makruf nahi ‘anil mungkar dan tidak menerangkan tatacara menasehati penguasa. Ana jawab, wahai akhiy, ayat-ayat di atas adalah ayat umum yang memerintahkan kaum Muslim untuk menyampaikan kebenaran kepada siapa saja tanpa ada batasan, baik penguasa, rakyat, laki-laki maupun wanita. Ayat di atas juga tidak membatasi cara untuk menyampaikan kebenaran itu, baik dengan terang-terangan maupun sembunyi.
Dalam sunnah, ana akan sampaikan beberapa hadits saja –meskipun sebenarnya banyak hadits–,
“Siapa saja melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya..”[HR.Imam Muslim, Tirmidziy, Ibnu Majah, dan An Nasaaiy]
“Seutama-utama jihad adalah kalimat haq yang disampaikan di depan penguasa fajir”. [HR. Imam Ahmad, dalam Musnad Imam Ahmad]
“Tidaklah seorang Nabi yang Allah swt utus untuk umat sebelumku, kecuali ia memiliki hawariyyun dan shahabat-shahabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Setelah itu, mereka diganti oleh orang-orang sesudah mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang jaahadahum (bersungguh-sungguh mencegah mereka) dengan tangannya, maka ia Mukmin. Siapa yang bersungguh-sungguh mencegahnya dengan lisannya, maka ia Mukmin, dan barangsiapa bersungguh-sungguh mencegahnya dengan hatinya, maka ia Mukmin; dan tidak ada lagi iman seberat biji sawipun di balik itu”. [HR. Imam Muslim] Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits ini dengan syahid makna]
“Kami membai’at Rasulullah saw agar selalu mendengar dan mentaati baik dalam keadaan susah maupun ringan, dalam keadaan senang maupun benci, dan agar kami tidak mencabut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali jika kamu melihat kekufuran nyata yang ada bukti bagi kamu di sisi Allah; dan agar kami mengatakan kebenaran di mana pun kami berada, tanpa kami takut celaan dalam menyampaikan kebenaran dari Allah”[HR. Imam Bukhari dan Muslim]
Inilah dalil-dalil jaliy yang menunjukkan bahwa hukum asal mengoreksi penguasa itu disampaikan dengan sungguh-sungguh dan terang-terangan, tanpa takut celaan orang-orang yang mencela.
Keumuman hadits-hadits ini tidak bisa ditakhshish oleh riwayat ‘Iyadl bin Ghanm Pasalnya, selain hadits itu dla’if, makna hadits Iyadl bin Ghanm hanya menunjukkan rukhshash dan al-irsyad. Tidak lebih.
Sesudah penjelasan ini, masihkah ada orang yang mengatakan bahwa mengoreksi penguasa itu harus sembunyi-sembunyi?
HTI: Namun, sebagian orang awam menyangka ada riwayat yang mengkhususkan ketentuan ini. Mereka berpendapat bahwa mengoreksi penguasa harus dilakukan dengan empat mata, karena ada dalil yang mengkhususkan. Mereka berdalih dengan hadits yang sumbernya (tsubutnya) masih perlu dikaji secara mendalam. Hadits itu adalah hadits yang riwayatkan oleh Imam Ahmad.
Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits dan berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّىغَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ وَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللَّهِ فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Telah meriwayatkan kepada kami Abu Al Mughirah, dan dia berkata, “Telah menuturkan kepada kami Shofwan, dan ia berkata, “Telah meriwayatkan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid al Hadlramiy dan lainnya, dia berkata, “‘Iyadl bin Ghanm mendera penduduk Dariya, ketika berhasil dikalahkan. Hisyam bin Hakim pun mengkritik Iyadl bin Ghanm dengan kasar dan keras, hingga ‘Iyadl marah. Ketika malam datang, Hisyam bin Malik mendatangi ‘Iyadl, dan meminta maaf kepadanya. Lalu Hisyam berkata kepada ‘Iyadl, “Tidakkah engkau mendengar Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya manusia yang mendapat siksa paling keras adalah manusia yang paling keras menyiksa manusia di kehidupan dunia”. ‘Iyadl bin Ghanm berkata, “Ya Hisyam bin Hakim, sungguh, kami mendengar apa yang engkau dengar, dan kami juga menyaksikan apa yang engkau saksikan; tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa hendak menasehati penguasa (orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah), maka janganlah menasehatinya dengan terang-terangan, tetapi ambillah tangannya, lalu menyepilah dengannya. Jika ia menerima nasehat, maka baginya pahala, dan jika tidak, maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya untuk orang itu. Sesungguhnya, engkau ya Hisyam, kamu sungguh berani, karena engkau berani kepada penguasanya Allah. Lalu, tidakkah engkau takut dibunuh oleh penguasanya Allah, dan engkau menjadi orang yang terbunuh oleh penguasa Allah tabaaraka wa ta’aala”.[HR. Imam Ahmad]
‘Iyadl bin Ghanm adalah Ibnu Zuhair bin Abiy Syadad, Abu Sa’ad al-Fahri. Beliau adalah seorang shahabat yang memiliki keutamaan. Beliau termasuk shahabat yang melakukan bai’at Ridlwan; dan wafat pada tahun 20 H di Syams.
Hisyam bin Hakim bin Hazam bin Khuwailid al-Qurasyiy al-Asdiy adalah shahabat yang memiliki keutamaan, dan beliau adalah putera dari seorang shahabat. Beliau wafat pada awal-awal masa kekhilafahan Mu’awiyyah bin Abi Sofyan. Ada orang yang menduga bahwa beliau meraih mati syahid di Ajnadain. Beliau disebut di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim dalam haditsnya Umar tatkala ia mendengarnya membaca surat Al Furqan. Beliau wafat sebelum ayahnya meninggal dunia. Imam Muslim, Abu Dawud, dan An Nasaaiy menuturkan hadits dari beliau, sebagaimana disebutkan dalam Kitab At Taqriib.
Di dalam Kitab Tahdziib al-Kamal, Al Maziy berkata, “Diriwayatkan darinya:…dan ‘Urwah bin Az Zubair…hingga akhir. Adapun Syuraih bin ‘Ubaid al-Hadlramiy al-Hamashiy, dia adalah seorang tabi’in tsiqqah (terpercaya). Riwayatnya dari shahabat secara mursal, sebagaimana disebut dalam Tahdziib al-Kamal, “Mohammad bin ‘Auf ditanya apakah Syuraih bin ‘Ubaid al-Hadlramiy mendengar dari Abu Darda’? Mohammad bin ‘Auf menjawab, “Tidak”. Juga ditanyakan kepada Mohammad bin ‘Auf, apakah dia mendengar dari seorang shahabat Nabi saw? Dia menjawab, “Saya kira tidak. Sebab, ia tidak mengatakan dari riwayatnya, “saya mendengar”. Dan dia adalah tsiqqah (terpercaya)”.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab At Taqriib mengatakan, “Dia tsiqqah (terpercaya), dan banyak meriwayatkan hadits secara mursal; karena tadlisnya. Ibnu Abi Hatim di dalam Kitab Al Maraasiil berkata, “Saya mendengar ayahku berkata, “Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu dengan Abu Umamah, al-Harits bin Harits, dan Miqdam. Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya mendengar bapakku berkata, “Syuraih bin ‘Ubaid menuturkan hadits dari Abu Malik Al Asy’ariy secara mursal”.
Jika Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu dengan Abu Umamah Shadiy bin ‘Ijlaan al-Bahiliy ra yang wafat pada tahun 76 H dan Miqdam al-Ma’diy Karab ra yang wafat pada tahun 87 H, maka bagaimana bisa dinyatakan bahwa Syuraih bin ‘Ubaid bertemu dengan Hisyam bin Hakim yang wafat pada awal-awal pemerintahan Mu’awiyyah, lebih-lebih lagi ‘Iyadl bin Ghanm yang wafat pada tahun 20 Hijrah pada masa ‘Umar bin Khaththab ra?
Selain itu, Syuraih bin ‘Ubaid ra meriwayatkan hadits itu dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya) dan di dalam hadits itu tidak ada satupun indikasi yang menunjukkan bahwa ia hadir dalam kisah itu, atau mendengar orang yang mengisahkan kisah tersebut. Dengan demikian, hadits di atas harus dihukumi sebagai hadits munqathi’ (terputus), dan tidak layak dijadikan sebagai hujjah.
Demikian pula hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad secara ringkas (mukhtashar) dari Ibnu ‘Abi ‘Ashim di dalam kitab As Sunnah, di mana Imam Ahmad berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami ‘Amru bin ‘Utsman, di mana dia berkata,”Telah meriwayatkan kepada kami Baqiyah, dan dia berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Sofwan bin ‘Amru, dari Syuraih bin ‘Ubaid, bahwasanya dia berkata, “‘Yadl bin Ghanam berkata kepada Hisyam bin Hakim, tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa hendak menasehati penguasa janganlah ia sampaikan dengan terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia ambil tangannya, lalu menyepilah dengannya. Jika ia menerima maka ia akan mendapatkan pahala, dan jika tidak, maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya”.[HR. Imam Ahmad]
Baqiyyah adalah seorang mudalis. Walaupun Baqiyyah menuturkan hadits ini dengan sharih menurut versi Ibnu Abi ‘Aashim, tetapi, tetap saja tidak bisa menyelamatkan Baqiyyah. Pasalnya, ia adalah perawi yang suka melakukan tadlis dengan tadlis yang buruk (tadlis qabiih) –yakni tadlis taswiyah . Dikhawatirkan dari tadlisnya itu ‘an’anah [(meriwayatkan dengan ‘an (dari), ‘an (dari)] dari gurunya dari gurunya jika ditarik ke atas. Di dalam Kitab Al Majma’, Imam Al Haitsamiy berkata, “Yang benar, jalur darinya (Syuraih bin ‘Ubaid) hanya berasal dari Hisyam saja. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad, dan rijalnya tsiqat (terpercaya). Akan tetapi, saya tidak mendapati Syuraih bin ‘Ubaid mendengar hadits ini langsung dari ‘Iyadl dan Hisyam, walaupun dia seorang tabi’un.
Catatan lain, Syuraih bin ‘Ubaid meriwayatkan hadits ini dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya), dan di dalam hadits ini tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa ia hadir dalam kisah itu, maupun mendengar dari orang yang menceritakan kisah tersebut. Oleh karena itu, hadits ini harus dihukumi sebagai hadits munqathi’; dan tidak layak dijadikan sebagai hujjah.
Adapun dari jalur-jalur lain, misalnya dari jalur Jabir bin Nafir, maka setelah diteliti, ada perawi yang lemah, yakni Mohammad bin Ismail bin ‘Iyasy.
Jika demikian kenyataannya, gugurlah berdalil dengan hadits riwayat Imam Ahmad di atas.
Tanggapan: sayangnya anda tidak menyebutkan jalan lain, yaitu yang dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Dalam Al Mu’jamul Kabiir: Haddatsana Amru bin Ishaq bin Zuraiq haddatsana abii (H) haddatsana ‘Imarah bin Wutsaimah Al Mishri dan Abdurrahman bin Mu’awiyah Al ‘Utabi keduanya berkata: Haddatsana Ishaq bin Zuraiq, haddatsana ‘Amru bin Al Harits dari Abdullah bin Salim dari Az Zubaidi haddatsna Al Fadl bin fadlalah mengembalikannya kepada ‘Aidz mengembalikannya kepada Jubair bin Nufair bahwa ‘Iyadl bin Ghanam..dst.
Sanad ini walaupun lemah karena Amru bin Al Harits dikatakan oleh Al Hafidz: Maqbul, demikian pula Al Fadl bin Fadlalah, namun jalan ini menguatkan jalan Muhammad bin Isma’il bin Ayyasy, sehingga naik kepada derajat hasan, dan bila digabungkan dengan sanad imam Ahmad : Telah meriwayatkan kepada kami Abu Al Mughirah, dan dia berkata, “Telah menuturkan kepada kami Shofwan, dan ia berkata, “Telah meriwayatkan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid al Hadlramiy dan lainnya, dia berkata, “‘Iyadl bin Ghanm.. dst. Maka naik kepada derajat shahih, adapun permasalahan Syuraih tidak mendengar dari Iyadl, tidak bermudlarat bila ternyata telah diketahui wasithahnya yaitu Jubair bin Nufair.
Tanggapan Balik:
Demikianlah, antum berusaha mati-matian menshahihkan hadits ‘Iyadl bin Ghanm dengan cara mencari syahid maupun mutaba’ahnya. Sayang usaha antum tersebut malah menjerumuskan antum untuk mencari-cari dalih, untuk memenuhi keinginan dan hawa nafsu antum., bukan untuk menegakkan hujjah yang lurus. Namun, demi menegakkan sunnah dan kebenaran, ana akan jelaskan kelemahan jalur dari Imam Thabaraniy. Kelemahannya hadits ini terlihat dari kenyataan berikut ini:
Pertama, hadits riwayat Imam Ahmad dari jalur Abu Mughirah, Shofwan, Syuraih bin ‘Ubaid telah terbukti kelemahannya, karena Syuraih tidak pernah bertemu dengan Hisyam bin Hakim (lebih-lebih lagi Iyadl bin Ghanm). Dengan demikian, hadits ini dihukumi sebagai hadits munqathi’, sehingga gugur sebagai hujjah.
Kedua, adapun tentang Jubair bin Nufair yang antum nobatkan sebagai “wasithah antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim, sehingga tampak seolah-olah telah menyambungkan “keterputusan antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim, maka perlu antum ketahui bahwa ternyata Jubair bin Nufair pun menuturkan hadits tersebut dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya). Jubair bin Nufair adalah seorang tabi’un yang terkemuka. Imam Adz Dzahabiy dalam Tadzkiratu al-Huffaadz berkata, “.Beliau (Jubair bin Nufair) adalah seorang ulama terkemuka, haditsnya ada dalam kitab-kitab hadits seluruhnya, kecuali Shahih Bukhari, dan demikian itu karena kelemahannya (layyin al-hadits). Namun, kadang-kadang ia melakukan tadlis dari shahabat-shahabat besar”. Atas dasar itu, hadits dari Jubair bin Nufair pun munqathi’, dan tidak bisa menyelamatkan keterputusan antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim. Sebab, Jubair bin Nufair sendiri tidak menyaksikan langsung kejadiannya atau mendengarnya langsung dari orang yang meriwayatkan dari ‘Iyad bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim. Atas dasar itu, hadits yang antum katakan naik derajatnya itu, tetap tidak bisa selamat dari keterputusan (inqitha’). Dengan demikian, hadits itu harus dihukumi sebagai hadits munqathi’ dan tidak layak dijadikan sandaran hujjah.
Adapun hadits dari jalur Mohammad bin ‘Ayyasy, maka antum juga harus tahu Mohammad bin ‘Ayyasy adalah dla’ifu al-hadits (dla’if haditsnya). Di dalam Kitab Al-Jarh wa al-Ta’diil, Abu Hatim berkata, “Dia tidak mendengar apapun dari bapaknya”. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Taqriib berkata, “Mereka mencela dirinya karena ia menuturkan dari bapaknya tanpa pernah mendengarnya”. Dalam hadits ini tidak boleh dinyatakan bahwa ia dengan sharih menuturkan dari bapaknya (dengan lafadz haddatsanaa); sebab dia adalah dla’if, tidak tsiqqah”.
Ketiga, jalur dari Amru bin Ishaq bin Zuraiq haddatsana abii (H) haddatsana ‘Imarah bin Wutsaimah Al Mishri dan Abdurrahman bin Mu’awiyah Al ‘Utabi keduanya berkata: Haddatsana Ishaq bin Zuraiq, haddatsana ‘Amru bin Al Harits dari Abdullah bin Salim dari Az Zubaidi haddatsna Al Fadl bin fadlalah mengembalikannya kepada ‘Aidz mengembalikannya kepada Jubair bin Nufair bahwa ‘Iyadl bin Ghanam..dst.
Ibnu Zuraiq adalah waah. Imam Adz Dzahabiy berkata, “Ibnu Zuraiq adalah waah (lemah)”. Ishaq adalah ayah dari Amru, dan tentang dia, Al Hafidz berkata, “Shaduq yahammu katsiira (shaduq tapi banyak lemahnya), dan Mohammad bin ‘Aud menyebutkan bahwa dia itu berdusta”. Abu Hatim juga berkata tentang dia, “Syaikh la ba’sa bihi, hanya saja mereka mencelanya. Saya mendengar Yahya bin Ma’in memujinya dengan baik”. Dalam Tarikh Ibnu ‘Asaakir dan juga Tahdzibnya Ibnu Badran, disebutkan bahwa An Nasaaiy berkata, “Ishaq tidak tsiqqah jika meriwayatkan dari ‘Amru bin Harits”. Sedangkan hadits di atas Ishaq meriwayatkan dari ‘Amru bin Harits!!! Sedangkan Amru bin Harits, Ibnu Hibban dalam Tsiqahnya berkata, “Ia adalah mustaqim al-hadits”. Namun, Imam Adz Dzahabiy membantahnya dalam Al-Mizan, “Tafarrada bi ar-riwayah ‘anhu Ishaq bin Ibrahim bin Zuraiq dan maulanya, yang namanya ‘Ulwah, dan dia tidak tidak diketahui keadilannya”. Dengan demikian, yang meriwayatkan hadits dari dari Amru bin Harits hanyalah Ishaq dan maulanya Amru bin Harits yang majhul. Sedangkan Ishaq adalah waah (lemah) [lihat di atas]. Sedangkan Amru bin Ishaq bin Zuraiq al-Himshiy termasuk syaikhnya Imam Thabaraniy. Sayangnya tidak ada biografi atas dirinya, alias majhul.
Dengan demikian hadits dari jalur ini jelas-jelas lemah dan banyak ‘illatnya, yakni; (1) majhulnya Amru bin Ishaq bin Zuraiq al-Himshiy, syaikhnya Imam Thabaraniy, (2) dla’ifnya Ishaq bin Ibrahim bin Zuraiq yang sangat parah, (3) lemahnya (layyin) ‘Amru bin Harits, (3) lemahnya (layyin) al-Fadlil bin Fudlalah, (4) keterputusan (inqitha’) antara al-Fadlil dengan Ibnu ‘Aidz, (5) terputusnya Ibnu ‘Aidz dengan Jubair bin Nufair, (6) terputusnya Jubair bin Nufair dengan semua orang yang meriwayatkan dari ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim radliyallahu ‘anhumaa. Dengan demikian, jalur inipun gugur secara menyakinkan.
Adapun komentar Imam Al-Haitsamiy dalam Majma’ az Zawaid, “Rijaaluhu tsiqat wa isnaduhu muttashil”, maka harus dinyatakan bahwa komentar beliau ini tidak tepat dikarenakan alasan-alasan di atas.
Keempat, permasalahan yang sebenarnya hendak dibuktikan adalah sanad dari Syuraih bin ‘Ubaid atau Jubair bin Nufair ra. Dan telah dijelaskan bahwa Syuraih bin ‘Ubaid atau Jubair bin Nufair meriwayatkan dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya). Tidak ada satupun lafadz yang menunjukkan kehadiran keduanya dalam kisah itu, atau mendengar diskusi antara Hisyam bin Hakim dan ‘Iyadl bin Ghanm; atau mendengar langsung dari orang yang menyaksikan atau mendengar dari Hisyam bin Hakim dan ‘Iyadl bin Ghanm. Oleh karena itu, riwayat tersebut dihukumi munqathi’ (terputus).
Semua riwayat dari Jubair bin Nufair dan Syuraih bin ‘Ubaid diketahui mursal dari qudama` ash-shahahat (shahabat-shahabat terkemuka), bahkan Syuraih meriwayatkan hadits secara mursal dari seluruh shahabat. Atas dasar itu, semua riwayat yang berasal darinya dihukumi inqitha’ (terputus).
Adapun riwayat mu’an’anah dari ‘Iyadl bin Ghanm, maka sudah dimaklumi bahwa ‘Iyadl bin Ghanm meninggal tahun 20 H pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab ra, dan Jubair bin Nufair tidak pernah mendengar dari ‘Iyadl bin Ghanm, sebagaimana disebutkan dalam biografinya di Kitab Tahdziib al-Kamaal karya Al-Maziy, dan at-Tadzkirah karya Husainiy. Selain itu, Jubair bin Nufair juga dikenal meriwayatkan secara mursal dari shahabat-shahabat besar. Dengan demikian, riwayat ini juga terputus (inqitha’).
Selain itu, ada cacat lain dari hadits tersebut dari sisi matan. Hadits-hadits lain justru menyakinkan kepada kita bahwa Hisyam bin Hakim tetap mengoreksi ‘Iyadl bin Ghanm dengan terang-terangan ketika berada di Himsh. Imam Thabaraniy meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya Hisyam bin Hakim mendapati ‘Iyadl bin Ghanm , pada saat itu ia berada di Himsh, menjemur manusia dari al-Nabth di bawah terik matahari, dalam masalah penyerangan jizyah. Hisyam bin Hakim berkata, “Apa ini wahai ‘Iyadl bin Ghanm! Saya mendengar Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia”. Hadits ini adalah hasan lidzatihi dikarenakan dikarenakan banyaknya hadits-hadits mutabi’ahnya. Selain itu, riwayat-riwayat lain juga menunjukkan bahwa Hisyam bin Hakim juga mengoreksi dengan terang-terangan, sebagaimana ia mengingkari penguasa Himsh yang tidak disebutkan namanya, atau terhadap ;Umair bin Sa’ad pada saat ia berada di Palestina atau di Himsh. Peristiwa ini terjadi setelah terjadinya diskusi antara dirinya dengan ‘Iyadl bin Ghanm pada saat penaklukkan Dariya., Ini bisa diketahui dari kronologi sejarah penaklukkan jazirah Syam. Seandainya peristiwa diskusi antara Hisyam bin Hakim dengan Iyadl bin Ghanm tentang “koreksi sembunyi-sembunyi” merupakan hukum asal mengapa shahabat jalil Hisyam bin Hakim tetap mengoreksi penguasa dengan terang-terangan!?
Walhasil, hadits-hadits yang antum ketengahkan itu seluruhnya gugur baik karena perawinya yang lemah (Mohammad bin ‘Iyasy), maupun terputusnya Jubair bin Nufair dengan ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim.
Demikianlah, Allah telah memudahkan kita untuk menunjukkan kelemahan hadits riwayat Imam Ahmad tentang “sirriyat al-nashihah”. Oleh karena itu, argumentasi antum telah gugur di hadapan hujjah yang lurus dan benar. Semoga antum tertunjukki dan terentaskan dari kesalahan. Allahummasyhad, qad balaghtu al-haqq. Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwamith Thariiq.

30 Komentar

  1. Anonymous said,

    Juli 29, 2010 pada 1:58 pm

    satu tanggapan untuk Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy

    صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ (١٨)

    (Qs 2;18)

    walaupun sudah “pintar” dalam mencoba mendalami 'ilmu namun tetap saja keadaan nya sama seperti dalam ayat tersebut..

  2. zainal said,

    Juli 30, 2010 pada 10:17 am

    Assalamu'alaikum klo bisa blog ini diblokir.. karena isinya tidak ada yang berbobot…..akhi wa ukhti tahu salaf tdk?(banyak teman-teman ana baik akhwat dan ikhwan yang dulunya ikut HTI sekarang mendapat hidayah pada ke salaf,teman2 ana yang dari HTI pada taubat dan sedih karena di HTI hanya acaranya demo,belajar agama juga hanya dirumah-rumah dengan ust2 yang tidak berilmu,pernah ada seorang akhwat bilang ana selama di HTI ilmunya sangat kurang dan tidak tahu apa2,sekarang seorang akhwat itu sedang mempelajari ilmu agama islam ke ust salaf dibogor(alhamdulillah dia mendapatka hidayah)beliau pernah bilang juga di HTI ust2 tdk ada yang ahli hadist hanya bisa bicara saja tanpa ilmu…karena Hadist Ahad saja dibantah/tdk dipake…..padahal brang siapa yang tidak mempercayai hadist Rasulullah saw telah kafir…ana pernah nanya ke orang HTI tentang musik?lalu orang HTI menjawab hukumnya mubah,padahal sudah jelas Haram karena ana juga bawa dalil hadist yang shohih eh malah orang HTI tdi bilang hadist itu palsu(berarti orang2 HTI tdk ada yang ahli hadist dan tidak mau mempercayai hadist yang shohih)padahal Rasulullah mengancam bagi yang tidak mempercayai Hadist Rasulullah yang shohih maka hukumnya Kafir….apalagi membantah hadist Ahad….Itulah aliran yang bisa merusak ummat muslim di Indonesia….COBA ANA MAU TANYA YANG DI HTI ADA TIDAK ORANG-ORANG YANG LULUSAN DARI MADINAH?? ana kenal pak khotot(gatot) beliau itu orangnya bukan lulusan dari madinah,beliau itu bukan orang ahli agama karena di bukan ngambil bidang agama islam. antum tahu tdk ust badrussalam.Lc beliau ini lulusan Universitas Madinah jurusan Hadist(beliau ini ahli hadist)..

  3. Juli 30, 2010 pada 2:23 pm

    @Anonymous:anda mengatakan bahwa Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy itu “tuli, bisu dan buta” dng menyitir ayat al-qur'an al-karim.
    itukah julukan kpd orang2 diluar kelompok anda?
    Cukup nasehat yg sya kutip dr perkataan ust.syamsuddin utk anda ini;
    “Perkataan seperti ini tidak pernah keluar dari seorang ustadz faqih-sholih dan berakhlaqul karimah; tapi, hanya akan keluar dari lisan orang-orang yang hatinya dipenuhi kenistaan dan kekotoran. Ana berdoa dengan sepenuh hati, agar Allah membersihkan hati antum dari semua kenistaan dan kekotoran.” hadahullah!!

  4. Juli 31, 2010 pada 2:32 am

    @zainal:Wa'alaikumsalam wr.wb.
    #klo bisa blog ini diblokir.. karena isinya tidak ada yang berbobot…..
    >>Wah kalo diblokir kan nanti anda&temen2 tidak tahu apakah blog ini isinya berbobot apa endak.

    #akhi wa ukhti tahu salaf tdk?
    >>nanti akan saia kupas-tuntas apa salaf itu.

    #banyak teman-teman ana baik akhwat dan ikhwan yang dulunya ikut HTI sekarang mendapat hidayah pada ke salaf,
    >>Yang dulunya penganut faham salafy yg kemudian tergabung dng barisan pejuang syariah-khilafah jg tidak sedikit kok.

    #teman2 ana yang dari HTI pada taubat dan sedih karena di HTI hanya acaranya demo,
    >>demo/masyroh itu adlh acara dari kesekian ratus dr acara2 yg diadakan oleh HTI. Ini adl amalan yg mulia dlm muhasabah lil hukam, yg tdk dilakukan oleh orang2 salafy.

    #belajar agama juga hanya dirumah-rumah dengan ust2 yang tidak berilmu,
    >>Ini salah satu acara HTI selain demo, yaitu Halaqah. Apa krn tdk ngaji ke salafy lantas dinggap sbg orang yg tdk berilmu ato kurang keilmuanya?! anda harus objective, jng kasuistis lantas di generalisir lah.

    #pernah ada seorang akhwat bilang ana selama di HTI ilmunya sangat kurang dan tidak tahu apa2,sekarang seorang akhwat itu sedang mempelajari ilmu agama islam ke ust salaf dibogor(alhamdulillah dia mendapatka hidayah)
    >>alhamdulillah kalo demikian adanya, bisa jadi dia selama dibina di HTI masih bberapa hari saja ato masih membaca beberapa halaman dr kitab2 HT saja.
    Kalo saia pribadi(bukan cerita orng lain) alhamdulillah sya mendapat pemahaman yg luas di HTI yg tdk sya dapatkan sebelumnya. Dgn pemahaman dan pemikiran yg cemerlang telah menggerakkan sya utk belajar Islam lebih dalam tanpa tergantung pada ustadz2 tertentu. Alhamdulillah sya mendapatkan pemahaman Islam yang kaffah.
    lebih baik anda KENALI dulu apa itu Hizbut-Tahrir, HT itu bukan madrasah/sekolahan.
    didalam HALAQAH, memang bukan madrasah/sekolahan, melainkan utk mengasah aqliyah shg memiliki pemikiran yg tinggi. utk mengembangkan Nafsiyah shg memiliki kepribadian Islam yg lurus dan akan melahirkan perjuangan politik (dakwah).

    #beliau pernah bilang juga di HTI ust2 tdk ada yang ahli hadist hanya bisa bicara saja tanpa ilmu…
    >>ini adalah fitnah murahan, yg bisa jadi yg mengatakan itu blm tahu apa2 di HTI. Misalkan ada ustadz di HT yg ahli hadist, beliau pasti tdk mau menyebut2 dirinya sebagai ahli hadist dan tdk perlu diberi ijazah/title keahlianya.

    #karena Hadist Ahad saja dibantah/tdk dipake…..
    >>siapa bilang hadist Ahad tidak dipake, kami memake hadis yg sohih di dalam beramal. Dan menjadikan hadis yg mutawatir sbg hujjah dlm hal akidah.

    Imam Syaukani menyatakan, “Khabar ahad adalah berita yang dari dirinya sendiri tidak menghasilkan keyakinan. Ia tidak menghasilkan keyakinan baik secara asal, maupun dengan adanya qarinah dari luar…Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama.

    Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Quran menyatakan, bahwa, hadits ahad tidak bisa dijadikan sandaran (hujjah) dalam menerima masalah ‘aqidah. Al-Quranlah rujukan yang benar, dan kemutawatirannya adalah syarat dalam menerima pokok-pokok ‘aqidah.

    dan msih banyak pendapat2 ulama(jumhur ‘ulama) bahwa hadist ahad tidak diterima dlm akidah.

    ato jangan2 anda tdk bisa membedakan mana itu akidah mana itu syariah?!

  5. Juli 31, 2010 pada 2:35 am

    @zainal:
    #padahal brang siapa yang tidak mempercayai hadist Rasulullah saw telah kafir…
    >>Inikah akhlaq anda yg menuduh sodaranya sesama muslim sbg kafir?!
    derlu diketahui pegangan kami adalah Al-Qur'an dan assunnah. apakah yg berpegang kepada keduanya anda anggap kafir??

    #ana pernah nanya ke orang HTI tentang musik?lalu orang HTI menjawab hukumnya mubah,padahal sudah jelas Haram karena ana juga bawa dalil hadist yang shohih eh malah orang HTI tdi bilang hadist itu palsu(berarti orang2 HTI tdk ada yang ahli hadist dan tidak mau mempercayai hadist yang shohih)
    >>musik kami adalah Nasyid, murotal, solawat dll yg bisa membangkitkan ghiroh islam.

    #padahal Rasulullah mengancam bagi yang tidak mempercayai Hadist Rasulullah yang shohih maka hukumnya Kafir….apalagi membantah hadist Ahad….Itulah aliran yang bisa merusak ummat muslim di Indonesia….
    >>Permasalahan hadits ahad bukan hal baru, para ulama pun telah lama memperbincangkan hal ini dan tidak adil rasanya jika dunia maya dipenuhi oleh kritikan bahkan penyesatan hingga pengkafiran terhadap golongan yang tidak menjadikan hadits ahad sebagai dalil dalam hal aqidah. Maka dari itu, setidaknya blog ini dapat memberikan hujjah penyeimbang.
    http://khabar-ahad.blogspot.com/

    #COBA ANA MAU TANYA YANG DI HTI ADA TIDAK ORANG-ORANG YANG LULUSAN DARI MADINAH?? ana kenal pak khotot(gatot) beliau itu orangnya bukan lulusan dari madinah,beliau itu bukan orang ahli agama karena di bukan ngambil bidang agama islam. antum tahu tdk ust badrussalam.Lc beliau ini lulusan Universitas Madinah jurusan Hadist(beliau ini ahli hadist)..
    >>Kami bukan orang yg gila titel/gelar dan kami bukan orang yg ber-taqlid kpd seorang ustadz,kyai dll. lihatlah beliau ini walopun mereka bukan orang yg bertitel, bukan lulusan madinah, sprti Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy, ustadz Muhamamd Sidiq al-jawi, ustd Hafiz Abdurrahman, ustd Rahmat S.Labib, Ustd Ismail Yusanto.. tp pemikiran beliau sangat berseberangan dng orang2 yg bertitel sprti kelompok JIL Siti Musdah mulia, ulil absor, ghozali said, luthfy, moqhsid ghazali dll..

    wasiat Imam Ali r.a. : “Jangan kamu kenali kebenaran itu karena manusianya, tetapi kenalilah kebenaran itu, maka kamu akan kenal orangnya.”

    Kebenaran tidak dikenal dari orang-orangnya. Tetapi kenalilah kebenaran, maka engkau akan tahu siapa orang-orang yang berada di atas kebenaran !

  6. Juli 31, 2010 pada 2:55 am

    Beda Salafi dengan Salafus Shaleh
    Tentang definisi Salafus Sholeh. Yang pertama, kita lihat secara bahasa salaf berasal dari akar kata :
    a- Salafa – Yaslufu – wa Salfan — Al-Ardha : yg berarti ‘meratakan tanah’ .
    b- Salafa – Yaslufu – wa Salafan — ketika org arab mengatakan ‘salaffa asy-syai’a’ berarti ‘mendahulukan sesuatu’.

    Berkata Imam Ibn Mandzur : “Salaf ialah sesiapa yang telah mendahului engkau yang terdiri dari ibu bapa atau kaum kerabat yang lebih tua pada umur dan kedudukan.” Ia juga bisa berarti nenek moyang atau generasi terdahulu (Salafun ; Aslafun). Sehingga secara bahasa yg dimaksud dengan Madzhab As-Salaf adalah madzhab generasi terdahulu. Sehingga menurut bahasa Imam An-Nabhani, Imam Hasan Al-Banna, Imam Ad-Dahlawwi, Imam Al-Maududi, Imam Abul Hasan An-Nadwi dll adalah termasuk Salaf Ash-sholeh (yaitu generasi terdahulu yg sholeh), karena sejarah telah membuktikan mereka adalah para Ulama yg ikhlas yg memimpin umat untuk mengembalikan Izzul Islam wa Muslimun !!!??

    Kemudian ada sebagian Ulama yang menggunakan istilah Salaf Ash-Sholeh untuk menyebut generasi para shahabat-, tabi'in-, dan tabi'ut tabi'in, terutama Ibn Taimiyah dlm karya2-nya spt Al-Aqidah Al-Washitiyyah, Majmu’ul Fatawa dll. Tapi belum pernah ada satupun riwayat yg shohih, yg sampai kepada kita bahwa ada diantara para Imam Mujtahid spt: Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad Ibn Hambal, Malik dll yang menyebut diri mereka dan pengikutnya sebagai kelompok Salafi; ‘hatta’ para Imam ahli hadis spt Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi dll yang menyebut dirinya sebagai Salafi !!!!

    Padahal merekalah yg sebenarnya paling layak untuk disebut sebagai Salafi (yaitu penerus madzhab shahabat-, tabi'in-, dan tabi'ut tabi'in), karena mereka mengambil ilmu dien ini langsung dari mereka. Seperti kasus Imam Malik yang Kitabnya yang berjudul Al-Muwatho (sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Imam Malik dalam muqadimah kitabnya) mendapat rekomendasi dari 70 ulama Madinah yang merupakan anak keturunan dan murid sahabat atau tabi’in dan tabiu’t tabi’in di Madinah, bahkan ada riwayat yg menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah bertemu dengan para Sahabat dll.
    Seandainya penyebutan atau labelisasi seperti ini adalah ‘sangat penting’ (spt klaim Salafi), maka harusnya merekalah yang paling layak untuk menggunakan sebutan sebagai kelompok Salaf, dan pastilah mereka yang pertama kali akan ‘mempopulerkan’ istilah ini, ‘hatta’ sampai Ibn Taimiyyah-pun tidak pernah mengunakan istilah salafi untuk menyebut dan mendefinisikan madzhabnya dan para pengikutnya !!!

  7. Juli 31, 2010 pada 2:56 am

    Lalu dari mana munculnya istilah Salafi, untuk menyebut “org yg mengklaim dirinya sebagai satu2-nya penerus madzbab Salaf Ash-Sholeh yaitu Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in”. Yang jelas bukan dari para Ulama Mujtahid spt Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad Ibn Hambal, Malik dll yang menyebut diri mereka dan pengikutnya sebagai kelompok Salafi; hatta para imam ahli hadis spt Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi dll !!??! Tapi adalah Albani-lah yg pertama kali menggunakan istilah ini, sebagaimana terekam dalam sebuah dialognya antara Albani dengan (salah satu pengikutnya yaitu Abdul Halim Abu Syuqqah) (Lihat Majalah As-Sunnah 06\IV\1420; hal 20-25) !!!

    Lalu Albani-lah yang memberi definisi Salafi sebagai ‘orang-orang yang mengikuti cara beragamanya para salaf dalam memahami islam’. Dan supaya terlihat ‘keren’ lalu dinukillah sejumlah ayat, hadis, atsar dan pendapat sebagian Ulama (nb: yg tentunya ditakwil sesuai dg kepentingan kelompok Neo Salafi ini !!!), untuk menunjukkan bahwa seakan-akan yg menggunakan istilah itu adalah para Imam diatas, padahal klaim itu tidaklah benar (nb : silahkan tunjukkan satu riwayat saja, yg shohih dr para imam mujtahid dan Imam Ahli Hadis yg memperkuat klaim kelompok Salafi ini) !!!?

    Walhasil, untuk menilai apakah Imam Taqiyyudin atau Hasan Al-Banna dll mengikuti manhaj para salafus shalih atau tidak, tidak ditentukan oleh penilaian Albani, Utsaimin, Ibn Baz dll ( kualitas keilmuannya jauh dibawah para Imam ini !!??). Tapi hujjah dan argumentasi yg mrk gunakan !!! Dan itu harus dikaji kasus per kasus, tdk bisa digeneralisasi (nb: tidak spt cara Ikhwan dan kelompoknya yg sengaja mencari-cari kesalahan para Imam ini lalu digunakan untuk menyatakan bahwa seluruh pendapat mereka adalah salah dan menyimpang !!?). Sedang klaimnya bahwa Albani, Utsaimin, Ibn Baz min firqoh As-Salafiyah Al-Jadidah (Kelompok Neo Salafi) adalah termasuk ulama salafy, dan merekalah satu2-nya yg layak mengikuti cara beragamanya para salaf dalam memahami islam adalah sebatas klaim kelompok salafi dan orang2 yg sepakat dg pemikirannya !!!?

  8. zainal said,

    Agustus 3, 2010 pada 1:30 am

    Yang dulunya penganut faham salafy yg kemudian tergabung dng barisan pejuang syariah-khilafah jg tidak sedikit kok.(jawaban:justru banyak sekali umat muslim yang ruju' ke salaf buktinya saat ini banyak kajian salafi di indonesia apalagi hampir seluruh kampus PTN di Indonesia mengadakan kajian salafi….
    >demo/masyroh itu adlh acara dari kesekian ratus dr acara2 yg diadakan oleh HTI. Ini adl amalan yg mulia dlm muhasabah lil hukam, yg tdk dilakukan oleh orang2 salafy.(jawaban: antum itu bodoh ya gak punya ilmu hanya hawa nafsu dan pemikiran saja yang dipakai, sudah jelas ulama Madinah dalam fatwanya menjelaskan bahwa demo itu dilarang dan bukan amalan mulia, mana dalil tentang demo amalan mulia…pikir dunk yang benar jangan hanya NAFSU SAJA YANG DIPAKAI..
    Alhamdulillah kalo demikian adanya, bisa jadi dia selama dibina di HTI masih bberapa hari saja ato masih membaca beberapa halaman dr kitab2 HT saja(jawaban:akhwat tersebut sudah mengikuti HTI sudah lama dan sudah baca semua buku2 HTI tapi dia bilang isinya hanya bahas Khilafah saja..tpi sampai saat ini belum bisa,sebenarnya tahu tidak sih cara menegakkan syariah islam di Indonesia??…
    padahal brang siapa yang tidak mempercayai hadist Rasulullah saw telah kafir…
    >>Inikah akhlaq anda yg menuduh sodaranya sesama muslim sbg kafir?!
    derlu diketahui pegangan kami adalah Al-Qur'an dan assunnah. apakah yg berpegang kepada keduanya anda anggap kafir??(jawaban:klo hadist yang dipakai palsu atau dhoif yang bisa sesat, apalagi sekarang banyak hadist yang palsu dan dhoif.)….
    sprti Ustadz Syamsudin Ramadhan An-Nawiy, ustadz Muhamamd Sidiq al-jawi, ustd Hafiz Abdurrahman, ustd Rahmat S.Labib, Ustd Ismail Yusanto.. tp pemikiran beliau sangat berseberangan dng orang2 yg bertitel sprti kelompok JIL Siti Musdah mulia, ulil absor, ghozali said, luthfy, moqhsid ghazali(JAWABAN:ooo berarti ust2 dari HTI itu sama seperti orang JIL ya,berarti HTI itu sama dengan JIL ya…karena sama orang yang senang dengan pemikiran hanya pakai otak saja…tanpa ilmu yang benar dan tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah saw dan ulama-ulama dimadinah dan arab saudi… padahal JIL kan sudah dilarang dan sesat…berarti HTI itu sama dengan JIL ya pemahamannnya…

  9. Agustus 3, 2010 pada 5:53 am

    @zainal: justru banyak sekali umat muslim yang ruju' ke salaf buktinya saat ini banyak kajian salafi di indonesia apalagi hampir seluruh kampus PTN di Indonesia mengadakan kajian salafi…..
    >>Namun masih saja menghasilkan kader2 yg sekuler, yg memusuhi pejuang syariah dan khilafah. menciptakan kader2 yg taat waliyul amri(indonesia).. yg masih ridho dg sistem thaqut demokrasi ini.

    @ antum itu bodoh ya gak punya ilmu hanya hawa nafsu dan pemikiran saja yang dipakai, sudah jelas ulama Madinah dalam fatwanya menjelaskan bahwa demo itu dilarang dan bukan amalan mulia, mana dalil tentang demo amalan mulia…pikir dunk yang benar jangan hanya NAFSU SAJA YANG DIPAKAI..
    >>wah anda ini rupanya taqlid buta dng fatwa2 ulama wahabi madinah yah.. semua hizb, firqah2 memang disesatkan oleh mereka krn dkawatirkan menentang penguasa Raja saud. Kelompok2 lain selain salafy/wahabi diberangus, krn hny wahabi yg diakui oleh kerajaan. Kerajaan saud tdk lepas dari sejawah berdirinya. Para ulama dimanfaatkan utk mengeluarkan fatwa yg menguntungkan raja, mereka mengbackup exsistensi kerajaan Saudi. Pantas saja paham wahabi hanya diterima di arab Saudi.
    Bukankah sudah dijelaskan panjang lebar dng hujjah yg kuat kebolehan mengoreksi penguasa src terang2an. Mungkin mmg krn anda tdk pernah mendengar&membaca hujjah dr orang2 diluar golongan anda yah.

    @klo hadist yang dipakai palsu atau dhoif yang bisa sesat, apalagi sekarang banyak hadist yang palsu dan dhoif.)….
    >>loh siapa yah yg menggunakan hadis dhoif itu, apa pada kasus lagu/nasyid yg hadisnya dhoif?! Nah ternyata selain hadis palsu dan dhoif jg ad hadis mutawatir dan hadis ahad.

    @ooo berarti ust2 dari HTI itu sama seperti orang JIL ya,berarti HTI itu sama dengan JIL ya…karena sama orang yang senang dengan pemikiran hanya pakai otak saja…tanpa ilmu yang benar dan tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah saw dan ulama-ulama dimadinah dan arab saudi… padahal JIL kan sudah dilarang dan sesat…berarti HTI itu sama dengan JIL ya pemahamannnya…
    >>Wah2 kesimpulan ngawur dan menyesatkan.
    Betapa taqlidnya anda ini dng ulama dimadinah dan arab saudi…
    Kita diberi otak digunakan utk berfikir dan memahami isi dr al-quran dan assunnah, membaca tafsir, menggali ilmu hadis dll.. Terus terang saja sya masih mengunakan otak/akal dlm memahami, dan menjadikan qurán dan hadis sbg pegangan.
    Yang ingin sya katakana bahwa orang2 JIL adalah orang yg bersekolah tinggi menuntut ilmu di timur tengah, amerika dll… tetapi pemikiranya sangat sekuler dan memusuhi para pejuang syariah dan khilafah. Nah kalo ustad2 ato ulama2 salafy/wahabi masih tetap memusuhi pejuang syariah dan khilafah yg istiqomah dan ikhlas memperjuangkan izzzatul islam wal muslimin,.. lalu apa bedanya kalian dengan JIL..?!

  10. Anonymous said,

    Agustus 4, 2010 pada 3:08 am

    Sayangnya syabab HTI tidak mau melihat kenyataan dari artikel yang di bantah bahwa HTI tidak mencantumkan sanad dalil dalam:

    Ketika Umar bin Khaththab ra berkhuthbah di hadapan kaum Muslim, setelah beliau diangkat menjadi Amirul Mukminin, beliau berkata, “Barangsiapa di antara kalian melihatku bengkok, maka hendaklah dia meluruskannya”. Seorang laki-laki Arab berdiri dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, jika kami melihatmu bengkok, maka kami akan meluruskannya dengan tajamnya pedang kami”.

    Jika HTI tidak mampu memberikan sanad dan sumber dalil tersebut, maka ini merupakan salah satu bukti HTI tidak paham dengan ilmu hadits atau atsar dan tidak memiliki kapasitas ilmu dalam menggunakan dalil yang shahih sebagai hujjah.

    Sedangkan Syaikh Ali Hasyisy rahimahullah berkata tentang dalil tersebut: “Yang menunjukkan akan kepalsuan kisah ini sangat nampak adalah karena kisah ini tidak ada asal-usulnya dan bertentangan dengan al-Qur'an dan as-Sunnah serta ijma' para ulama (sepakat) atas tidak bolehnya menentang pemerintah disebabkan oleh kesalahan mereka.” (Majalah at-Tauhid volm. 86).

    Hendaklah mengingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sebelum membawakan hujjah:

    “Barangsiapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan menempatkannya pada lumpur neraka, sehingga dia keluar dari apa yang telah dia katakan”
    [Shahih HR Abu Dawud, no. 3597, Ahmad (2/270 dan al-Baihaqi (6/82)]

    HTI sedang menghadapi ancaman atas berbicara mengenai Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu yang tidak ada padanya dan juga atas warga yang di klaim mengatakan akan meluruskan khalifah Umar radhiyallaahu anhu dengan pedang.

  11. Agustus 4, 2010 pada 4:15 am

    @Anonymous:
    Pertama, perkataan Ali Hasyisy bukanlah dalil syariat, dan sama sekali tidak boleh dijadikan dalil syariat. Menjadikan pendapat Ali Hasyisy sebagai dalil syariat sama dengan telah menyepadankan keduanya dengan Asy Syaari’.
    Kedua, Hadis tsb tidak menunjukkan pertentangan larangan menasehati penguasa dengan terang2an.

    Kebolehan menasehati penguasa dengan terang2an(berdasar topik pembahasan) sudah dijawab dengan hujjah yg kuat oleh ustdz Syamsuddin Ramadhan An Nawiy. Dalam hal ini HTI sudah berjalan berdasarkan hujjah dan dalil yg kuat.

  12. Anonymous said,

    Agustus 4, 2010 pada 4:38 am

    Dan jawaban antum semakin menguatkan ketidak mampuan HTI mendatangkan sanad dari astar yang di bawakan HTI ini:

    Ketika Umar bin Khaththab ra berkhuthbah di hadapan kaum Muslim, setelah beliau diangkat menjadi Amirul Mukminin, beliau berkata, “Barangsiapa di antara kalian melihatku bengkok, maka hendaklah dia meluruskannya”. Seorang laki-laki Arab berdiri dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, jika kami melihatmu bengkok, maka kami akan meluruskannya dengan tajamnya pedang kami”.

    Darimana di nukilnya? siapa yang meriwayatkan atsar tersebut?

    Jika tidak memiliki sanadnya, mengapa dikatakan dalil yang kuat?
    Apa antum paham yang di maksud dengan sanad, matan dan istilah ilmu hadits lainnya?

    Hujjah yang mana yang antum bilang kuat?

    Menanggapi komentar saja sudah tidak mampu fokus, hadits ini

    “Barangsiapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan menempatkannya pada lumpur neraka, sehingga dia keluar dari apa yang telah dia katakan”
    [Shahih HR Abu Dawud, no. 3597, Ahmad (2/270 dan al-Baihaqi (6/82)]

    merupakan ancaman Allah subhanahu wata'ala dan Rasulullah shalallohu'alayhi wasallam kepada siapa saja, termasuk HTI yang sudah membawakan suatu atsar atau perkataan siapapun tapi tidak ilmiah dalam membawakannya dan tidak memberikan jalan untuk memeriksa kebenarannya.

    HTI tidak membawakan bukti sanad yang bisa di periksa kebenaran atsar yang di bawakan.

    Sekali lagi, selama tidak ada sanad yang bisa di berikan HTI atas atsar yang di jadikan hujjah, maka kenyataan ketidak mampuan mendatangkan sanad ini membuktikan pernyataan HTI keliru dan salah dalam hal berkata berdasarkan hujjah yang kuat.

  13. Anonymous said,

    Agustus 4, 2010 pada 5:04 am

    Syaikh Ali Hasyisy rahimahullah memiliki ilmu dalam bidang hadits dan perkataan beliau merupakan hujjah di bidang hadits jika di bandingkan perkataan ana atau perkataan antum yang tidak paham hadits.

    Jika antum atau syabab HTI lain memiliki sanadnya maka sampaikanlah agar bisa di teliti kebenaran atsarnya, sehingga kita tidak taqlid kepada perkataan orang tertentu tanpa memeriksa kitab-kitab rujukan yang shahih.

    Jika tidak, maka HTI di ancam oleh Allah dan RasulNya melalui hadits:

    “Barangsiapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan menempatkannya pada lumpur neraka, sehingga dia keluar dari apa yang telah dia katakan”
    [Shahih HR Abu Dawud, no. 3597, Ahmad (2/270 dan al-Baihaqi (6/82)]

  14. Anonymous said,

    Agustus 4, 2010 pada 2:12 pm

    HTI payah…

    belajar dulu aja lah sama orang-orang salaf..

    masalah dasar saja tidak faham.. bicara tentang khilafah..

  15. Anonymous said,

    Agustus 5, 2010 pada 11:30 pm

    Afwan,kok ana nanya ke HTI Bogor,ketika penentuan Ramadhan dia bersumber pada Arab saudi tapi knp fatwa Majelis Ulama Arab Saudi di Cela sama HTI???berarti HTI sumbernya darimana?kan Rasulullah dan Sahabat Rasulullah saw Tinggal Arab Saudi knp HTI tidak mau berfatwa dengan Arab Saudi dan malah menetang Fatwa Ulama Arab Saudi kan Kiblatnya Umat Islam ada di Arab Saudi…

  16. Agustus 6, 2010 pada 4:04 am

    @Anonymous: Afwan baru bisa balas.. justru andalah yg molai tdk fokus pd topik. Dalil dan hujjah mengoreksi penguasa sudah dijelaskan dlm tulisan diatas dng hujjah yg kuat. silahkan dibaca scr keseluruhan.

    Adapun perkataan/atsar sahabat dan jg Khalifah, sosok beliau2 inilah yg seharusnya dicontoh oleh para pemimpin umat.

    Abu Bakar, khalifah pertama umat Islam setelah dipilih oleh konstituennya, beliau menyampaikan pidatonya yang sudah cukup masyhur: Wahai manusia, aku dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Olehnya, bila kalian melihatku menunaikan kebenaran, maka sokonglah aku. Namun jika kalian mendapatiku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Taatlah kepadaku dalam ketaatan kepada Allah. Jika aku bermaksiat, maka janganlah kalian mentaatiku.
    [Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Tabari, Juz 3, Hal 203, al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir, Juz 6, Hal 301.]

    Umar, khalifah kedua umat Islam juga menegasikan hal serupa, seperti pendahulunya. Suatu ketika beliau berpidato: Wahai manusia, siapa saja yang mendapati hal bengkok padaku, maka luruskanlah. Salah seorang dari hadirin berdiri, lalu berkata: Apabila kami mendapati hal bengkok padamu, maka kami akan meluruskannya dengan pedang-pedang kami. Umarpun langsung menyambutnya, dengan berkata: Syukurlah, ternyata masih ada rakyat Umar yang meluruskan kebengkokan Umar dengan pedang.
    [Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Tabari, Juz 4, Hal 58.]

    Khalifah ketiga umat Islam, Utsman pernah didemo oleh rakyatnya, karena melakukan beberapa kesalahan hukum. Utsman kemudian menyadari kesalahannya, dengan tidak mengingkari sikap rakyatnya. Beliau bicara diatas mimbar: Aku bertobat dan tidak akan mengulangi lagi sikap yang dianggap buruk oleh umat Islam. Aku telah mendengar sabda Rasulullah, barang siapa yang telah salah, maka segeralah bertobat. Jangan terus-terusan dalam kesalahan dan kebinasaan. Karena orang yang tetap bertahan dalam kesalahannya, berarti dia telah jauh dari jalan kebenaran. Maka akulah orang pertama yang menerima nasehat. Aku beristigfar dan bertaubat kepada Allah. Apabila aku turun dari mimbar ini, aku harap perwakilan dari kalian untuk menyampaikan aspirasi dan pendapatnya. Demi Allah, bila saja kebenaran akan mengembalikanku menjadi seorang budak, maka aku akan menghinakan diriku sehina budak.
    [At-Tabaqat al-Kubra, Ibn Sa'ad, Juz 3, Hal 70]

    Itulah ucapan/atsar para Sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, itulah ucapan para Khalifah.
    Sekarang terserah anda apakah percaya atau mengingkarinya?! Namun demikian walopun anda tidak percaya jg tidak menggugurkan hujjah dng dalil terkuat pada topik mengoreksi penguasa dengan terang-terangan sbgmn dalil-dalil syara’ lainnya yg dijelaskan pada tulisan diatas..

    Silahkan dibaca lagi tulisan utuhnya:
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/07/kritik-atas-pendapat-yang-menyatakan.html

  17. Agustus 6, 2010 pada 4:22 am

    @Anonymous: Terkait masalah penetapan awal-akhir ramadhan.. itu berbeda penetapan Idul Adha, sbgmana kita ketahui bahwa penentuan Idul Adha wajib berdasarkan Rukyatul Hilal penduduk Makkah.

    Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.

    Bacalah tulisan2 berikut dan lihatlah perbedaanya:
    ~PENENTUAN IDUL ADHA WAJIB BERDASARKAN RUKYATUL HILAL PENDUDUK MAKKAH~
    http://syabab1924.blogspot.com/2009/04/penentuan-idul-adha-wajib-berdasarkan.html

    ~Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan Dengan Ru’yatul Hilal~
    http://syabab1924.blogspot.com/2009/08/penetapan-awal-dan-akhir-ramadhan.html

    Nah kalo syabab HTI bogor menjawab utk penetapan Idul Adha bersumber pada Arab saudi (ulama, atopun penduduk setempat yg melihat hilal) maka tidak ada yg salah!?

  18. Anonymous said,

    Agustus 12, 2010 pada 3:36 am

    Bagi antum yang beranggapan hadits menasihati penguasa harus dengan diam-diam adalah lemah, silahkan melihat tulisan pembandingnya di: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/bincang-bersama-bapak-syamsuddiin.html

  19. Agustus 12, 2010 pada 5:02 am

    Bagi antum (Anonymous) siapapun anda sbenarnya apakah anda adl ust Badrus Salam ato abul Jauzaa..
    Bahwa mengoreksi penguasa secara terang2an adalah tuntutan syariah Islam sbgmana pnjelasan diatas.
    Jika antum telah melakukan koreksi penguasa scr sembunyi2 juga silahkan!!
    Namun setelah penjelasan diatas yg perlu ditegaskan adalah janganlah memusuhi jamaáh lain yg berseberangan dng pemahaman anda toh semua ada peganganya. mari kita beramal dan melaksanakan syariah Islam scr Kaffah.

  20. Anonymous said,

    Agustus 12, 2010 pada 11:05 am

    Bagaimana Anda bisa mengatakan mengatakan koreksi kepada penguasa adalah tuntutan syariah Islam jika ternyata Rasul 'alaihi shallatu wa sallam melarangnya? Jadi pada asalnya semua perintah untuk beramar ma'ruf nahi mungkar kepada penguasa telah dibatasi caranya harus dengan sembunyi-sembunyi.
    Saya pribadi tidak ingin memusuhi siapa pun dari kalangan kaum muslimin, bukankah salah satu wujud kecintaan muslim kepada muslim lainnya adalah dengan mengingatkan saudaranya yang tergelincir pada suatu kesalahan.
    Dan saya menyambut baik ajakan Anda untuk melaksanakan syariah Islam secara kaffah dan mengajak mereka yang memiliki semangat membela Islam untuk selalu meniti jalan yang telah ditempuh para pendahulu ummat (salafush shalih) dalam meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

    -deni-

  21. Agustus 13, 2010 pada 1:26 am

    Ya itulah anda ~Anonymous~ yg tdk berani menampilkan identitasnya sendiri!! Maaf jk berikutnya sya tdk melayanai diskusi tanpa identitas (tdk berani menampilkan identitas).

    Saya sarankan agar anda jangan menutup mata akan kebenaran walopun datangnya dr luar kelompok anda!! Penguasa sprti apakah yg anda bela? apakah penguasa yg mengingkari hukum2 Allah tegak di bumi ini? Lalu apa yg sudah anda lakukan utk merubah negara ini? apakah anda hanya berpangku tangan saja.

    “Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)

    #Benarkah aktifitas mengoreksi penguasa ternyata dilarang oleh Rasul 'alaihi shallatu wa sallam?
    Bacalah lagi tulisan2 berikut ini:

    ~KAPAN PENGUASA TIDAK BOLEH DITAATI? ~
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/04/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati.html

    ~Kritik Atas Pendapat Yang Menyatakan Mengoreksi Penguasa Harus Dengan (Empat Mata) ~
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/07/kritik-atas-pendapat-yang-menyatakan.html

    ~hukum masirah atau aksi berjalan sambil menyuarakan sebuah seruan ~
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/01/fiqh-nisa-seputar-hukum-masirah-atau.html

    ~Bolehkah Menasehati Penguasa Di Tempat Umum, Baik Secara Langsung Maupun Dengan Demonstrasi? ~
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/01/bolehkah-menasehati-penguasa-di-tempat.html

  22. deni said,

    Agustus 13, 2010 pada 2:20 am

    Saya tdk faham apa maksud anda menyembunyikan identitas bukankah sudah saya tuliskan nama saya di sana? Anda butuh informasi apa lagi? Alamat rumah,nomor telpon? Tapi baiklah, untuk memenuhi permintaan Anda, saya membuat sebuah akun google.
    Saya terima nasehat Anda untuk menerima kebenaran dari siapapun karena kebenaran adalah lebih berhak untuk diikuti. Akan tetapi dalam hal ini saya melihat bahwa yang benar adalah tuntunan Rasul yang memerintahkan kita untuk menasihati penguasa (saya perjelas:penguasa muslim) dengan cara sembunyi-sembunyi.
    Kita semua tahu bahwa asal dari larangan Rasul adalah menunjukan keharaman sesuatu. Dan karena telah dibuktikan bahwa hadits yang melarang menasihati penguasa secara terang-terangan adalah shahih maka tidak boleh bagi kita untuk menyelisihinya. Karena itu semua hadits umum yang tentang keutamaan menasihati penguasa harus dibatasi caranya yaitu tidak secara terang-terangan. Tentunya kita semua faham kaidah bahwa dalil-dalil umum itu harus dibawa kepada dalil-dalil yang mengkhususkan.
    Saya juga tidak memungkiri ada beberapa keterangan yang menceritakan perbuatan beberapa ulama salaf yang menasihati penguasa secara terang-terangan. Namun sebagai tersirat dari ucapan ustadz Syamsuddin Ramadhan bahwa perbuatan atau ucapan ulama bukanlah dalil dalam urusan syari'at. Maka Rasul harus lebih kita dahulukan daripada siapapun juga dari kalangan manusia.

  23. deni said,

    Agustus 13, 2010 pada 2:44 am

    Adapun pertanyaan Anda : “Penguasa sprti apakah yg anda bela? apakah penguasa yg mengingkari hukum2 Allah tegak di bumi ini? Lalu apa yg sudah anda lakukan utk merubah negara ini? apakah anda hanya berpangku tangan saja.”

    Maka jawaban saya: Saya membela penguasa muslim yang telah Allah berikan karunia untuk memimpin kaum muslimin. Saya mentaati mereka baik mereka itu shalih ataupun fasik, selama mereka masih berada dalam keimanan. Tentang apa yang telah saya perbuat, yang jelas saya tidak pernah berdemo, mencaci maki pemerintah, dan semisalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang diperbuat hamba-hambaNya.

  24. Agustus 13, 2010 pada 8:31 am

    Kita ini berada dlm sebuah Negara yg notabene selain ada pemimpin jg ada system yg menjadi dasar Negara tsbt. Walopun dlm Islam hny mengenal Darul Islam atau Darul Kuffur. Kita taat kpd Pemimpin (muslim) tentunya jg diselaraskan apakah sejalan atao tidak dng kebenaran (system Islam). Kalo pemimpinya Islam tapi sistemnya adalah system kuffur (thaqut) dan anda disuruh mentaati/menerima/menjalankan sistem tsbt, apakah masih layak ditaati?!

    Bukankah kita tentunya jg sepakat kalau demokrasi itu adlh haram. Nah inilah tugas kita bersama menasehati penguasa agar menjadikan system di negara ini sejalan dng kebenaran yaitu Islam. Walaupun anda tidak pernah ber demo/aksi damai apakah anda pernah menasehati penguasa walopun scr sembunyi-sembunyi?! Kalo syabab HTI InsyaAllah sudah melakukan dua-duanya. Dan biasanya aksi secara terbuka jg dibarengi dengan aksi tertutup(empat mata)

    Dan menjadi pertanyaan besar bagi kita seorang muslim, Apakah system thaqut ini yg di ridhoi oleh Allah SWT?! Tentunya Negeri yg diridhoi oleh Allah swt ialah yg menjadikan hokum-hukum Allah swt sbg pedoman hidup baik secara Individu, Masyarakat maupun Negara.

  25. deni said,

    Agustus 13, 2010 pada 9:38 am

    عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكرَهَ إِلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ
    “Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/umaraa’) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat” [HR. Al-Bukhari no. 2955,7144; Muslim no. 1839; Tirmidzi no. 1707; Ibnu Majah no. 2864]
    Berdasarkan hadits di atas maka tidak boleh bagi kita untuk taat dalam hal maksiat tersebut, namun tetap tidak menjadikan kita untuk membangkang pada seluruh hal. Kita hanya tidak taat dalam hal-hal yang merupakan kemaksiatan. Adapun tentang bagaimana status penguasa di negeri kita ini, saya harap tulisan berikut bisa memberi tambahan pengetahuan bagi kita semua :
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/menyikapi-penguasa-yang-dhalim-tanya.html

  26. Agustus 16, 2010 pada 1:30 am

    Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim, Jika sejalan dengan kebenaran(Islam). Allah swt berfirman:

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”[al-Nisaa’:59]

    Ketika menafsirkan surat al-Nisa’:59, Imam Nasafiy menyatakan:

    ولما أمر الولاة بأداء الأمانات والحكم بالعدل أمر الناس بأن يطيعوهم بقوله { ياأيها الذين ءَامَنُواْ أَطِيعُواْ الله وَأَطِيعُواْ الرسول وَأُوْلِي الأمر مِنْكُمْ } أي الولاة أو العلماء لأن أمرهم ينفذ على الأمر { فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ } فإن اختلفتم أنتم وأولو الأمر في شيء من أمور الدين { فَرُدُّوهُ إِلَى الله والرسول } أي ارجعوا فيه إلى الكتاب والسنة { إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بالله واليوم الآخر } أي إن الإيمان يوجب الطاعة دون العصيان ، ودلت الآية على أن طاعة الأمراء واجبة إذا وافقوا الحق فإذا خالفوه فلا طاعة لهم لقوله عليه السلام ” لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق ” . وحكي أن مسلمة بن عبد الملك بن مروان قال لأبي حازم : ألستم أمرتم بطاعتنا بقوله : و«أولي الأمر منكم»؟ فقال أبو حازم : أليس قد نزعت الطاعة عنكم إذا خالفتم الحق . بقوله «فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله» أي القرآن و«الرسول» في حياته وإلى أحاديثه بعد وفاته { ذلك } إشارة إلى الرد أي الرد إلى الكتاب والسنة

    “Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran. Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”[HR. Ahmad]. Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..” Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah, “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”
    Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Hafidz al-Suyuthi dalam kitab Tafsirnya,Durr al-Mantsuur, Imam Syaukani dalam Fath al-Qadir, dan serta kalangan mufassir lainnya.

    Baca selngkapnya mudah2an bisa membuka cakrawala berfikir dan pemahaman bagi kita!!

    #KAPAN PENGUASA TIDAK BOLEH DITAATI?#
    http://syabab1924.blogspot.com/2010/04/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati.html

  27. Anonymous said,

    September 27, 2010 pada 1:50 am

    Referensi yang lain. Semoga nambah ilmu.
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/bincang-bersama-bapak-syamsuddiin.html

  28. Anonymous said,

    September 27, 2010 pada 1:59 am

    Anonymous pejuang syariah :

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/bincang-bersama-bapak-syamsuddiin.html

    Ada salafi juga yang setuju kok :

    Muhaddits Yaman Syaikh Muqbil menilai hadits 'Iyadh bin Ghanam sebagai hadits yang dhaif karena syadz di Tuhfatul Mujib hal 170, cetakan pertama terbitan Darul Haramain Kairo.
    Di sana beliau mengatakan,
    وثبت عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: ((أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر)). والعندية لا تقتضي السرية وأن يكون مع السلطان وحده.
    وأما حديث: أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: ((من كانت لديه نصيحة لذي سلطان فلينصحه سرًّا)). فهذا الحديث أصله في “صحيح مسلم” ولم تذكر هذه الزيادة ولفظ الحديث: ((إنّ الله يعذّب الّذين يعذّبون النّاس في الدّنيا)) ولم تذكر هذه الزيادة، فلا بد من نظر في هذه الزيادة، فإذا كانت الذي رواها مماثلاً لمن لم يزدها فهي زيادة مقبولة، أو من رواها أرجح ممن لم يزدها فهي زيادة مقبولة، أما إذا كانت زيادة مرجوحة فحينئذ تعتبر شاذة، وهذه اللفظة تعتبر شاذة.
    وفرق بين أن تقوم وتنكر على المنبر أعمال الحاكم المخالفة للكتاب والسنة، وبين أن تستثير الناس على الخروج عليه، فالاستثارة لا تجوز إلا أن نرى كفرًا بواحًا،
    “Terdapat hadits yang shahih dari Nabi, beliau bersabda, “Jihad yang paling afdhol adalah mengucapkan kebenaran di sisi penguasa yang zalim”. kata-kata “di sisi” tidaklah mesti bermakna empat mata.
    sedangkan hadits yang mengatakan, “Siapa yang ingin menasehati penguasa maka hendaknya dia memberikan nasehat secara empat mata”, hadits ini asalnya ada di Shahih Muslim tanpa tambahan tersebut. redaksi hadits tersebut yang ada di Shahih Muslim adalah “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia” tanpa ada tambahan di atas.
    Menyikapi tambahan ini, kita perlu mengadakan pentelaahan. jika para perawi yang meriwayatkan tambahan itu semisal dengan para perawi yang para perawi yang tidak membawakan tambahan maka tambahan tersebut adalah tambahan yang bisa diterima (baca:shahih). Demikian pula, jika perawi yang membawakan tambahan itu punya nilai lebih dari pada perawi yang tidak membawakan tambahan maka tambahan tersebut adalah juga tambahan yang diterima (baca:shahih).
    namun jika tambahan tersebut adalah tambahan yang kurang kuat maka status tambahan tersebut adalah tambahan yang syadz (baca:lemah). Kesimpulannya, redaksi di atas adalah tambahan yang syadz (baca:dhaif).
    patut dibedakan antara mengingkari kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyelisihi al Qur'an dan sunnah di atas podium dengan melakukan agitasi agar rakyat memberontak terhadap pemerintah. Agitasi untuk memberontak itu tidak diperbolehkan kecuali jika kita melihat pemerintah memiliki kekafiran yang nyata”.
    Nampaknya, mungkin bisa kita simpulkan bahwa perbedaan pendapat tentang status hadits 'Iyadh bin Ghanam, dhaif ataukah shahih adalah perbedaan pendapat yang masih ada dalam ranah ijtihadiyyah di antara para ulama ahli sunnah.

  29. April 7, 2011 pada 2:45 pm

    Aneh ya orang Salafi Raja Penguasa yang membiarkan saudaranya umat islam di bunuhi di palestina, Irak, Afganistan oleh orang kafir amerika dan Israel Kok Di Banggakan, Bukannya menolong e malah membantu Amerika Piye piye!!! Ulama juga mana kok gak ada suaranya Terhadap pembunuhan umat Islam e gilirang demo muncul Fatwanya Ulama opo iki

  30. Anonymous said,

    Mei 24, 2011 pada 9:49 am

    tuk orang2 salafy: apapun pendapat/keyakinan ente silakan dilaksanakan, kalo yakin harus nasehati pemerintah secara diam-diam ya semoga ente jangan omong doang, tapi lakukan, bertamu ke rumah presiden, jelaskan soal tauhid, jelaskan soal thagut
    … baru habis itu ente jelasin tuh soal sujud harus lutut atau tangan dulu, sholat pake qunut kagak, dst …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: