Hadlarah dan Madaniyah

1. Apa yang dimaksud dengan hadlarah ?
Hadlarah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan.

2. Apa yang dimaksud dengan madaniyah ?

Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.

3. Apa perbedaan antara hadlarah dan madaniyah ?
Pertama, dilihat dari segi istilah saja sudah terdapat perbedaan antara Hadlarah dan Madaniyah. Kedua, Hadlarah bersifat khas, sesuai dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia.

Contohnya: Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah, seperti patung dan bangunan ibadah, keduanya  termasuk madaniyah yang bersifat khas, sehingga sebagian umat merasa memilikinya dan sebagian umat akan menolak atau menjauhinya. Sedangkan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri, seperti komputer dan kendaraan, keduanya tergolong madaniyah yang bersifat umum, oleh karenanya hal tersebut dapat dimiliki seluruh umat manusia.
4. Apa pentingnya memahami hadlarah dan madaniyah ?
Perbedaan antara hadlarah dengan madaniyah harus selalu diperhatikan, sama perhatiannya terhadap perbedaan antara bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari suatu hadlarah dengan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh sains dan teknologi/industri. Hal ini amat penting pada saat kita akan mengambil madaniyah, agar kita dapat membedakan bentuk-bentuknya atau agar dapat membedakannya dengan hadlarah.
5. Bagaimana bila kita memanfaatkan madaniyah (barang-barang) yang diproduksi oleh orang-orang kafir ?
Bentuk-bentuk madaniyah asing, baik yang dihasilkan oleh seorang muslim maupun seorang kafir, yang lahir dari sains dan teknologi/industri, tidak ada larangan bagi kita untuk mengambilnya. Akan tetapi madaniyahhadlarah selain islam, jelas tidak boleh diambil oleh kaum muslim, sebab kaum muslimin tidak boleh mengambil hadlarahhadlarah Islam, baik dari segi asas dan pandangannya terhadap kehidupan, maupun dari arti kebahagiaan hidup bagi manusia. asing, baik yang dihasilkan oleh seorang muslim apalagi seorang kafir, yang dihasilkan dari yang jelas-jelas bertentangan dengan

6. Mengapa hadlarah di luar islam tidak boleh sama sekali diambil kaum muslimin seperti halnya madaniyah ?
Hadlarah adalah sekumpulan ide yang dianut dan mempunyai fakta tentang kehidupan. Dan Hadlarah asing (di luar islam) berdiri atas dasar pemisahan agama dari kehidupan dan pengingkaran terhadap peran agama dalam kehidupan, yang berakibat munculnya paham sekuler, yaitu pemisahan agama dari urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Diatas dasar inilah mereka tegakkan sendi-sendi kehidupan beserta peraturan-peraturannya.

Konsep kehidupan menurut orang-orang kafir adalah manfaat/maslahat semata-mata, Oleh karena itu, manfaat menjadi ukuran bagi setiap perbuatan mereka. Dari sinilah manfaat menjadi paham yang menonjol dalam sistem dan hadlarah ini. Menurut mereka, kehidupan ini hanya digambarkan dalam kerangka manfaat semata-mata. Adapun kebahagiaan, mereka artikan sebagai usaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin kenikmatan jasmani, serta tersedianya seluruh sarana kenikmatan tersebut. Dengan demikian hadlarah di luar hadlarah Islam tidak lain adalah hadlarah yang dibangun atas mashlahat saja.
Akan halnya aspek kerohanian, maka aspek ini menjadi urusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat dan terbatas hanya pada pemuka agama dan lingkungan tempat ibadah saja. Oleh karena itu, dalam hadlarah di luar hadlarah Islam, sebenarnya tidak terdapat nilai-nilai moral, rohani, dan kemanusiaan. Yang ada hanyalah nilai-nilai materi dan manfaat semata. Oleh karena itu tidak mengherankan bila segala aktivitas kemanusiaan diambil alih oleh organisasi-organisasi yang berdiri sendiri di luar pemerintahan, karena seluruh nilai-nilai telah tercabut dari kehidupan, kecuali nilai materi semata, yaitu demi memperoleh keuntungan. Namun demikian, hadlarah seperti ini pun sebenarnya merupakan himpunan dari mafahim tentang kehidupan.
7. Bagaimana dengan hadlarah islam sendiri ?

Hadlarah Islam, adalah hadlarah yang berdiri di atas suatu landasan yang bertentangan dengan landasan hadlarah selainnya. Pandangannya tentang kehidupan dunia juga berbeda dengan yang dimiliki oleh hadlarahhadlarah kaum kufar. selainnya. Demikian pula arti kebahagiaan hidup menurut Islam sangat berlawanan dengan arti kebahagiaan hidup menurut
Hadlarah Islam berdiri atas dasar iman kepada Allah SWT, dan bahwasanya Dia telah menjadikan untuk alam semesta, manusia, dan hidup ini suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya, disamping telah mengutus junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam. Dengan kata lain, hadlarahqadla dan qadar baik buruknya dari Allah SWT. Jadi, aqidahlah yang menjadi dasar bagi hadlarah ini. Dengan demikian hadlarah ini berlandaskan suatu asas yang memperhatikan ruh (yaitu hubungan manusia dengan Pencipta). Islam berdiri di atas dasar aqidah Islam yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, Hari Kiamat, serta kepada
Mengenai konsep kehidupan menurut hadlarah Islam, sesungguhnya dapat dilihat dalam falsafah Islam yang lahir dari aqidah Islam serta yang menjadi dasar bagi kehidupan dan perbuatan manusia di dunia. Falsafah tersebut adalah penggabungan materi dengan ruh (menjadikan semua perbuatan manusia agar berjalan sesuai dengan perintah Allah dan larangan-Nya). Sebab pada hakekatnya amal perbuatan manusia adalah materi, sedangkan kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah pada saat ia melakukan perbuatan tersebut, ditinjau dari halal-haram-nya perbuatan, adalah ruh. Dengan demikian terjadilah penggabungan antara materi dengan ruh. Atas dasar inilah, maka islam memandang bahwa jalur perbuatan seorang muslim haruslah terikat kepada perintah Allah dan larangan-Nya. Sedangkan tujuan mengarahkan amal perbuatan agar berjalan di atas jalur perintah Allah dan larangan-Nya adalah keridlaan Allah semata, sama sekali bukan pada ada atau tidak adanya manfaat itu sendiri dari sudut pandang manusia.

8. Apakah dalam hadlarah islam tidak dikenal nilai materi untuk memperoleh keuntungan atas suatu manfaat ?
Maksud seseorang melakukan suatu perbuatan adalah nilai yang senantiasa akan didapatkannya tatkala dia melakukan suatu perbuatan. Nilai ini tentu saja berbeda-beda tergantung dari jenis perbuatannya. Adakalanya nilai itu bersifat materi, seperti misalnya orang yang berdagang dan bermaksud mencari keuntungan. Kadang-kadang nilai suatu perbuatan itu bersifat kerohanian, misalnya Shalat, Zakat, Shaum atau Haji. Ada pula yang bersifat moril, seperti jujur, amanah atau tepat janji. Atau dapat juga bersifat kemanusiaan, misalnya menyelamatkan orang yang tenggelam atau menolong orang yang berduka. Nilai-nilai semacam ini senantiasa diusahakan manusia untuk dapat terwujud saat ia melakukan perbuatan. Hanya saja nilai-nilai itu bukanlah penentu suatu perbuatan dan bukan pula tujuan utama dilakukannya perbuatan, melainkan hanya sekedar nilai perbuatan yang berbeda-beda tergantung dari jenis perbuatan.
Perbuatan dagang seseorang merupakan amal perbuatan yang bersifat materi, sedangkan yang mengendalikan perbuatan dagangnya ada pada ruh (kesadarannya akan hubungan dirinya dengan Allah, sesuai dengan perintah dan larangan-Nya) karena mengharap ridla Allah. Adapun nilai yang ingin diperoleh dari aktivitas dagangnya adalah keuntungan, yang merupakan nilai materi. Demikian pula nilai-nilai lainnya, meskipun nilainya berbeda-beda, namun pengendalian perbuatannya harus senantiasa menghadirkan ruh itu sendiri.

Sehingga kebahagiaan hidup menurut Islam terletak pada keridlaan Allah SWT, bukannya pada terpuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia. Sebab, pemuasan semua kebutuhan manusia baik yang bersifat jasmani maupun naluri hanya sebagai sarana saja untuk menjaga kelangsungan hidup manusia, namun tidak menjamin adanya kebahagiaan. Inilah pandangan hidup menurut Islam, dan inilah dasar bagi pandangan tersebut, yang menjadi asas bagi hadlarah Islam, yang sangat berlawanan dengan hadlarah selainnya.

9. Bagaimana kaitan antara madaniyah dengan hadlarah islam itu sendiri ?

Begitu pula dengan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah Islam akan senantiasa bertentangan dengan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah di luarnya
Sebagai contoh, meskipun lukisan adalah sebuah bentuk madaniyah, namun demikian, perlu diketahui lukisan tersebut isinya seperti apa ?!. Kebudayaan Barat dengan hadlarah-nya menganggap bahwa lukisan perempuan telanjang – yang menampilkan seluruh tubuh perempuan tanpa busana – adalah sebagai bentuk madaniyah yang sesuai dengan paham kehidupannya terhadap wanita. Oleh karena itu, orang Barat memandangnya sebagai bentuk madaniyah yang bersifat seni dan semakin bernilai tinggi jika memenuhi syarat-syarat ‘seni’. Namun bentuk madaniyah semacam ini jelas-jelas bertentangan dengan hadlarah Islam dan berlawanan dengan pandangannya terhadap wanita, yaitu sebagai suatu kehormatan yang wajib dijaga. Islam melarang lukisan semacam ini, karena akan merangsang syahwat biologis seseorang yang berasal dari naluri melestarikan jenis manusia dan dapat menyebabkan kebejatan akhlak. Di samping terdapat pula larangan untuk melukiskan makhluk yang bernyawa.
Begitu pula halnya dengan seluruh bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah Barat seperti misalnya patung dan sejenisnya. Demikian juga dengan pakaian, apabila memiliki ciri khas bagi orang-orang kafir yang disebabkan karena kekufuran mereka, maka tidak boleh dipakai oleh orang muslim (seperti baju pendeta, baju biksu, dan lain-lain, pent.). Sebab, pakaian semacam ini mengandung pandangan hidup tertentu. Akan tetapi apabila tidak demikian, yakni jika telah menjadi kebiasaan dalam berbusana dan tidak dianggap sebagai pakaian khusus orang kafir melainkan hanya dipakai untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau pemanis busana, maka dalam hal ini pakaian tersebut termasuk dalam jenis bentuk-bentuk madaniyah yang bersifat umum dan boleh dikenakan.

Adapun bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh sains dan teknologi/industri seperti alat-alat laboratorium, alat-alat kedokteran, mesin-mesin industri, perabotan rumah tangga, permadani, dan sebagainya. Semua ini merupakan bentuk-bentuk madaniyah yang bersifat universal, sehingga boleh kita ambil tanpa khawatir terhadap sesuatu. Sebab, bentuk-bentuk ini tidak dihasilkan dari hadlarah serta tidak ada hubungan dengan hadlarah.
Dengan melihat selintas saja pada hadlarah asing yang berkuasa di dunia dewasa ini, maka kita dapati bahwa hadlarah ini tidak mampu menjamin ketenangan dan ketenteraman manusia, terlebih bagi kaum muslimin. Malah sebaliknya, hadlarah ini telah menyebabkan kesengsaraan yang diderita oleh seluruh dunia. Hadlarahhadlarah ini. Akibatnya moral pun menjadi guncang. Dengan demikian, wajarlah jika moral telah tergeser dari kehidupan masyarakat Barat, sama halnya dengan tergesernya nilai-nilai kerohanian. Bahkan menjadi wajar pula bila kehidupan ini berjalan atas dasar persaingan, permusuhan, baku hantam, dan penjajahan, serta kejahatan yang merajalela di seluruh dunia. Semuanya merupakan bukti nyata dari dampak hadlarah asing (di luar hadlarah islam). Sebab, hadlarah semacam ini tidak menghasilkan apa-apa selain kesengsaraan dan keresahan yang terus-menerus. Oleh karena itu, penjajahan merupakan hal yang wajar bagi penganut inilah yang kini berkuasa di seluruh dunia, dialah yang menimbulkan berbagai dampak yang berbahaya dan membahayakan kelangsungan hidup umat manusia.

Namun apabila kita mengamati hadlarah Islam yang diimplementasikan dalam kekuasaan, sejak abad VI hingga akhir abad XVIII M, kita dapati betapa hadlarah ini belum pernah menjadi penjajah karena memang bukan tabiatnya untuk menjajah. Hadlarah ini tidak membedakan antara kaum muslimin dengan yang lainnya. Bahkan keadilan terjamin bagi seluruh bangsa yang pernah tunduk di bawahnya selama masa kekuasaan Islam. Karena hadlarah ini berdiri atas dasar ruh yang berusaha mewujudkan seluruh nilai-nilai kehidupan, baik itu nilai materi, spiritual, moral, maupun kemanusiaan; disamping menjadikan aqidah sebagai titik perhatian dalam hidup ini. Kehidupan pun dipandang sebagai kehidupan yang berjalan sesuai dengan perintah Allah dan larangannya. Kebahagian hidup hanyalah dengan meraih keridlaan Allah SWT. Apabila hadlarahhadlarah ini akan mampu menangani berbagai krisis yang melanda dunia dan akan mampu menjamin kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Islam kembali berkuasa di dunia ini sebagaimana pada masa sebelumnya, tentu
Wallahu’alam

Diambil dari Bab Hadlarah Islam, Kitab Nizham al Islam, Nabhani, Taqqiyuddin, terjemahan Abu Amin, dkk. dengan penambahan dan pengurangan, semoga tidak mengurangi apa yang ingin disampaikan penulis dan penerjemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: