Mana yg harus didahulukan, dakwah penegakan daulah atau dakwah kepada tauhid?

~Ada tuduhan, kenapa Hizbut-tahrir/HT selalu menyerukan penegakkan daulah/khilafah dan mengesampingkan dakwah tauhid. Apakah Rasulullah SAW melakukan seperti itu dan apakah benar tuduhan semacam ini.
Lantas mana yang harus didahulukan, mendakwahkan penegakan daulah atukah mendahulukan dakwah kepada tauhid ?~
-a) Apakah mendakwahkan penegakan daulah ke berbagai negeri ataukah mendahulukan dakwah kepada tauhid ?
Sebaik-baik manhaj dakwah yang harus kita teladani dan dijadikan sebuah thariqah dakwah adalah dakwah yang dilakukan oleh Rasul SAW, maka kita harus mengkaji apa saja yang dilakukan Rasul SAW selama dakwah yang beliau lakukan di Makkah, apakah terbatas pada dakwah tauhid atau ada aktifitas yang lainnya. DR. Abdurrahman Al-Baghdadi menjelaskan bahwa selama di Mekkah, Nabi Saw melakukan sejumlah aktifitas antara lain :
P- * Pemantapan aqidah islamiyah. Aqidah dijadikan sebagai asas perbaikan individu, asas masyarakat, dan asas penyelenggaraan negara.
* Pergumulan pemikiran : membantah hujjah mereka dan menyerang pemikiran aqidah mereka ~Beliau menentang orang-orang Quraisy melawan tuhan-tuhan mereka, Aqidah dan pemikiran mereka, mengungkapkan kepalsuan, kerusakan dan kesalahannya.~.
* Perjuangan politik : menentang para pembesar dan pemimpin mereka serta membongkar rencana dan konspirasi mereka; seperti yang tertera dalam surat al-qolam ayat 10-16, surat ath-thoriq ayat 15-17, surat anfal ayat 30 dll.
* Menyerang hubungan diantara anggota masyarakat serta adat istiadat yang tlh usang yang mengatur mereka. Seperti yang dijelaskan dlm surat Al-Muthafifin ayat 1- 6 yang menjelaskan tentang kecurangan dalam menakar timbangan, lalu pada surat Al-Isra’ ayat 31-34 tentang pembunuhan thd anak-anak.
– * Meneguhkan hati rasul SAW dan orang yang beriman dengan kisah dan janji Allah yang sangat dirindukan berupa kemenangan dan kedududkan dimuka bumi, seperti pada surat Hud ayat 120, serta Al-Qoshas ayat 5- 6 (Lihat Dakwah silam dan Masa depan Umat hal. 114 – 119 oleh DR. Abdurrahman Al-Baghdadi). Sebagai perbandingan silahkan mengakji kitab2 sirah yang lain seperti sirah Ibn Hisyam, sirah Ibn Ishaq, sirah Al-Halabiyah, tarikh Ath-Thobari, Bidayah wa Al-Nihayah li Ibn katsier, Al-Kamil fit tarikh li Ibn Atsier, dan kitab sirah lainnya tentang Bab Dakwah rasul SAW selama berada di Mekkah sebelum Hijrah ke Madinah.
Dari sini kita dapat melihat bahwa aktifitas rasul SAW di Makkah selain dakwah untuk mengajak orang musyrik Mekkah masuk Islam, terdapat aktifitas yang lain seperti pergumulan pemikiran, Perjuangan politik, mengganti adat istiadat yang rusak dan bertentangan dengan Islam, dan beberapa aktifitas lainnya. Sehingga berdasarkan kajian sirah dakwah Rasul SAW, dapat kita simpulkan bahwa Dakwah tauhid harus integral dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan islam, yaitu dakwah untuk mengembalikan seluruh hukum Allah SWT, baik yang menyangkut hubungan individu dengan Rabb-Nya berupa aturan yang menjelaskan tentang masalah sholat, zakat, haji, atau yang menyangkut hubungan individu dengan dirinya sendiri berupa aturan yang menjelaskan tentang masalah pakaian, makanan-minuman, serta akhlaq, atau yang menyangkut hubungan individu yang lain berupa aturan yang menjelaskan masalah ekonomi, pemerintahan, sosial – kemasyarakatan, pidana dsb, yang harus diemban oeh sebuah institusi negara !!! Lagi pula, sejak awal Hizb telah meletakkan prinsip bahwa Aqidah dijadikan sebagai asas perbaikan individu, asas masyarakat, dan asas penyelenggaraan negara !!!? Sehingga apa yang dituduhkan ini ibarat jauh panggang dari api (apa yang dituduhkan tidak terbukti) !!?.
-b) Kalau ada tuduhan bahwa pembahasan aqidah Hizb kurang dibanding masalah politik adalah dusta semata !!!
Hizb telah mengeluarkan dan mentabanni sejumlah kitab yang membahas banyak masalah seperti :
Nidzam al-Islam (Peraturan hidup dalam Islam, kitab pertama yang harus dikaji yang berisi masalah Aqidah, akhlak dll)
Nidzam Iqtishod (sistem ekonomi islam),
Al-Anwal fi daulah Al-Khilafah (Sistem keuangan dalam Daulah Al-Khilafah),
Nidzam Uqubat (sistem sangsi islam),
Nidzam Al-Hukmi (sistem pemerintahan islam),
Nidzam Ijtima’ (sistem pergaulan islam),
Daulah Al-Islamiyyah (Kitab Sirah),
Syakhsiyah Al-Islamiyah tdr dari 3 jilid (berisi pembahasan masalah aqidah, hadis, jihad, muamalat, ushul fiqh dll),
Ad-Dussiyah dan Ma’lumat li Asy-Syabab (nb : 2 kitab ini banyak memabahas masalah aqidah dan kritik atas peyimpangan aqidah umat dr aqidah yang shohih yang berdasar kitab dan As-Sunnah),
ahkam Ash-Sholat (Hukum2 sholat)
dan berbagai kitab lainnya yang membahas berbagai masalah termasuk diantara afkar siyasi dan Nadzarat siyasi li hizb At-Tahrir (nb : 2 kitab terakhir ini secara spesifik membahas pemikiran kontemporer dan konstalasi politik internasional).
Ditambah lagi puluhan bahkan ratusan kitab yang telah ditulis oleh para syabab dengan tema Aqidah, hadis, Fiqh, Ushul Fiqh, Tafsir, Ekonomi, politik, Sejarah, Ilmu sosial, Ilmu Psikologi, sirah dll. Sekali lagi, telah terbukti bahwa tuduhan semacam ini tidak terbukti dan ini hanya sebuah kedustaan yang pasti Allah akan meminta pertanggungan jawab atasnya !!!?
-c) Tentang apakah semua para shahabat nabi saat itu semuanya sibuk mendakwahkan penegakan daulah ke berbagai negeri ataukah mereka mendahulukan dakwah kepada tauhid.
Mari kita tengok dan pelajari sirah Rasul SAW berikut :
Sejak tiba di Madinah, Rasul mulai menjalankan pemerintahan untuk mengurusi urusan umat islam, mengatur urusan administrasi dan membangun masyarakat Islam. Beliau mulai mengutus sahabat Hamzah ibn abdul muthalib, ubaidah ibn harits, sa’ad ibn abi waqash sebagai komandan untuk memerangi quraisy. Beliau juga mengutus Zaid ibn haritsah, Ja’far ibn abi thalib, dan Abdullah ibn rawahah untuk menyerang romawi. Beliau juga mengangkat sahabat ‘utab ibn Said mjd gubernur Makkah, Muadz ibn Jabal sebagai gubernur Jaud, Khalid ibn Sa’id ibn Ash menjadi pegawai di Shun’a. Zayad ibn Labid Al-Anshari di Hadra maut, Abu Musa al-asy’ari sebagai gubernur di Zabid dan and’, Amr ibn Ash sebagai gubernur Oman, Adi ibn Hatim sebagai gubernur di Thayyi’. Abu Dujanah sebagai pegawai Rasul SAW di Medinah. Beliau juga mengangkat Abdullah ibn Rawahah setiap tahun untuk menghitung hasil pertanian yahudi khaibar. Rasul SAW juga mengangkat para hakim yaitu Ali ibn abi Thalib sebagai hakim di yaman, Abdullah ibn naufalmuadz iibn jabal sebagai hakim di yaman. Beliau juga menunjuk Harits ibn Auf sebagai petugas yang membubuhkan stempel dengan cincin nabi SAW, Zubair ibn Awwam sebagai pencatat hasil zakat, Mughirah ibn Syu’bah sebagai pencatat hutang-hutang negara dan masalah muamalah, Syuhrabil ibn Hasanah sebagai pencatat penandatanganan perjanjian kepada para raja. Rasul SAW juga sering bermusyawarah dengan 14 orang sahabat, 7 dr kaum Anshar dan 7 sisanya dari muhajirin, mereka a.l : Hamzah, Abu Bakaar, Umar, Ali, Ibn mas’ud, Salman, Ammar, Hudzaifah, Migdad dan Bilal. Yang kedudukan mereka seperti majelis syuro. Walhasil Rasul SAW sendirilah yang menegakkan struktur daulah, serta menjalankannya dan menyempurnakannya selama masa hidupnya. Negara Khilafah memiliki pemimpin, para muawwin, gubernur, hakim, militer, kepala administrasi, dan majelis syuro. Dan semua riwayat ini diriwayatkan secara mutawatir. (Lihat Kitab Ad-Daulah Al-Islamiyyah oleh Imam An-Nabhani, hal. 123-127 \ Bab Jihaz Ad-Daulah Al-Islamiyyah).
Terbukti Para Sahabat ra. tidak pernah membedakan antara dakwah kepada Tauhid (mengajak orang kafir masuk ke dalam Islam) dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan keterlibatan mereka dalam berbagai tugas kenegaraan dalam Daulah Khilafah kala itu !!?!. Sedang mencintai para sahabat dan mengikuti apa yang mereka lakukan dengan membedakan antara dakwah kepada Tauhid (mengajak orang kafir masuk ke dalam Islam) dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah tanda mereka merupakan bagain dari Ahlus Sunnah.
Perhatikan perkataan Imam Al-Barbahari tentang masalah ini. Imam Al Barbahary berkata : “Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudlair radliyallahu ‘anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah –Insya Allah– dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121).
Karena pada hakekatnya dakwah kepada tauhid dengan dakwah li isti’nafil hayatil islamiyyah, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada alasan karena sekarang dakwah tauhid belum terlaksana (menurut sangkaan sebagian kelompok), maka dakwah untuk menegakkan syari’at Islam dalam Daulah Khilafah dapat ditunda atau menjadi gugur kewajibannya. Sungguh tidak ada seorangpun Ahli Ilmu atau para Ulama dari masa ke masa yang mengatakan seperti yang dituduhkan sabagian orang atau kelompok.
-Bahkan rasul mengatakan dalam hadisnya yang sering dinukil oleh penuduh :
“…Dan hendaknya kamu berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Para Khulafa’ Ar-rasyidin ….. (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Bukankah dalam hadis ini Rasul memerintahkan kepada umat Islam agar mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin, bukan diperintahkan untuk mengikuti Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali sebagai individu sahabat. Padahal jabatan Khalifah adalah jabatan kenegaraan tertinggi dalam struktur daulah islamiyyah semenjak masa Nabi SAW !!!!? Bahkan mereka Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali meninggal dengan status sebagai amirul mukminin atau Khalifah umat Islam. Bahkan Umar dan Utsman terbunuh karena jabatan mereka sebagai Khalifah umat Islam !!! Lalu kenapa ada kelompok yang mengklaim penerus manhaj Salaf, tidak mengambil sunnah Nabi dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin dalam hal bentuk negara yaitu Daulah Khilafah, malah mendukung salah satu daulah yang sejak awal memproklamirkan dirinya sebagai kerajaan bukan Daulah Khilafah !!!?
-Malahan penuduh memusuhi para pejuang Islam yang hendak melanjutkan sunnah Nabi dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin dengan menerapkan islam secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah ala minhaj An-Nubuwwah, sebaliknya penuduh malah mengambil Sunnah Heraklius (raja Rum) dan Kaesar (raja Persi) dengan mendukung sebuah Kerajaan (bahkan menganggapnya sebagai Daulah Tauhid), sebagaimana ungkapan Abdurahman Ibn Abi Bakar (ketika mengomentari penunjukan Muawiyyah kepada yazid sebagai Khalifah penggantinya) : “Ini adalah Sunnah Heraklius (raja Rum) dan Kaesar (raja persia)” (Lihat As-Suyuti, Tarikh Khulafa’, hal. 162) !!!?.
-Tentang perintah rasul SAW untuk mengawali dakwah Tauhid, selanjutnya dakwah kepada syari’at. Hizb sepakat dan tidak menolak hal ini.
Tidak pernah Hizb dalam kitab-kitab mutabanatnya menyatakan dahulukan dakwah pada khilafah baru dakwah kepada tauhid !!!? (nb: Ini adl persepsi penuduh kepada dakwah Hizb, bukan penyataan resmi dr Hizb). Dakwah untuk menerapkan syari’at Islam pada hakekatnya adalah tuntutan dan menifestasi tauhid seorang muslim, yang tidak hanya dituntut harus yakin dengan rukun iman, tapi juga harus terikat dengan syariat islam yang terpancar dari aqidah tadi. Oleh karena itulah Hizb menganggap bahwa dakwah tauhid harus integral dengan dakwah untuk menegakkan syari’ah Islam, mulai dari skala individu, masyarakat dan negara. Itulah yang dimaksud dengan konsep tauhid ruhiyyah dan tauhid siyasah !!!
Tauhid siyasah adalah pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum berkaitan dengan masalah keakhiratan seperti kiamat, pahala, siksa, peringatan, petunjuk, dorongan untuk menperoleh pahala dll, sedang tauhid siyasah pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum berkaitan dengan masalah dunia seperti pembebanan hukum, kebaikan, kebururkan, perdagangan, sewa-menyewa, perkawinan, perseroan, warisan , sangsi, jihad dll. Sehingga pandangan hidup yang lahir dari aqidah Islam adalah halal dan haram. Yang ini merupakan thoriqoh untuk membangun keterikatan terhadap hukum-hukum syara’. Sehingga perkara apa saja yang halal baik yang hukumnya wajib, sunnah atau mubah, maka ia akan diambil tanpa ragu. Sedangkan jika perkara itu hukumnya haram atau makruh maka ia akan meninggalkannya tanpa ragu pula (Lihat Kitab Hadis Ash-Shiyam oleh Imam An-Nabhani, Bab Aqidah Ar-Ruhiyah wa Aqidah As-Siyasiyah) !!!?.
– Sedangkan berkaitan dengan hadis Ibn Abbas ra. Yang menceritakan bahwa ketika Rasul SAW memerintahkan Muadz ke Yaman, beliau bersabda : “Kamu akan mendatangi suatu kaum dr ahli Kitab,. Maka yang harus pertama kali kamu serukan adalah agar mereka mengesakan Allah SWT. Bila mereka sudah mengerti hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah memerintahkann kepada mereka untuk menunaikan sholat lima waktu….” (HR. Al-Bukhari). Imam An-Nabhani menjelaskan maksud dari hadis ini bahwa kewajiban pertama seorang muslim adalah berdakwah mengajak kepada Tauhidullah, setelah mengajak mereka kepada hukum-hukum Allah (Lihat Kitab Hadis Ash-Shiyam oleh Imam An-Nabhani, Bab Tauhidullah) ?!!! Bukankah penuduh juga mengakui didalam sebagian buku Hizb yang ia miliki, ia mendapatkan pembahasan tentang masalah aqidah (nb : sekalipun menurut ia terlalu sedikit dibanding masalah politik. Dan terbukti tuduhannya tidak terbukti, karena kalau ia pernah ngaji di HT, ngajinya ‘ndak pepek’ (tidak tuntas) atau karena sedikitnya buku-buku mutabanat HT yang ia punya (dan belum tentu ia faham dengan isinya). Dengan catatan klaimnya bahwa ia pernah ngaji di HT itu benar !!!?)
Sedang pengertian sebenarnya dari hadis ini adalah Muadz diutus kepada Ahlul Kitab atau diutus kepada orang Kafir. Sehingga yang dimaksud dengan Dakwah Tauhid disini adalah dakwah untuk mengajak orang Kafir untuk masuk Islam (dakwah ilal Islam). Sedang dakwah tauhid yang dilakukan kepada penduduk negeri kaum muslimin saat ini adalah dakwah li isti’nafil hayah Al-Islamiyyah (dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam yaitu dakwah untuk mengajak mereka terikat dan menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan mereka), karena mereka saat ini sudah Islam. Kecuali penuduh dan kelompoknya menganggap mereka (yaitu kaum muslimin) sudah kafir karena tidak sefaham dengan mereka atau tidak mengkaji kitab-kitab aqidah yang mereka ‘rekomendasikan’, maka kami berlepas diri dari ucapan batil ini !!!?. Sehingga kalau penuduh berdalil dengan hadis ini untuk membenarkan pendapatnya.
– Lalu kalau memang benar klaim penuduh bahwa hanya penuduhlah yang menguasai seluruh tsaqofah Islam, maka mana konsep yang anda tawarkan untuk mengatasi krisis keuangan, mana juga konsep anda untuk menangani masalah ketenagakerjaan, juga masalah pengelolaan sumber daya alam, masalah good and clean government, mana konsep anda tentang Bank Sentral ala Islam, tentang pendidikan, kesehatan, politik luar negeri, sistem pidana, perundang-undangan dll.
Kalau anda tidak mempunyai itu semua dan anda tidak mampu untuk memberi jawaban atas problematika yang dihadapi oleh umat ini, lalu untuk apa anda berteriak-teriak akan dapat menjadi juru selamat kalau tidak ada yang bisa anda gunakan untuk menyelamatkan umat ini. Maka batal dan rontoklah shubhat yang dilontarkan oleh mereka ?!??
Dengan sedikit pengeditan yg tanpa mengurangi keotentikan isi.
Abu Nizar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: