DEMOKRASI ALAT PENJAJAH

Kata Demokrasi mungkin kini merupakan istilah yang paling populer pada zaman ini, sebagai Ide, Demokrasi telah terlanjur dinilai “sakral”, sebagai Wacana, Demokrasi telah lama dianggap “berkah”, dan sebagai Sistem, Demokrasipun diyakini sebagai hal yang “wajib” diwujudkan. Dalam kaitannya dengan Islam dan Umat Muslim sendiri, telah lama muncul berbagai lontaran dari banyak kalangan yang intinya menunjukkan adanya hubungan antara Islam dan Demokrasi, bahkan ada kalangan yang dengan penuh percaya diri menyatakan, “Demokrasi adalah Islam” atau “Islam adalah Demokrasi itu sendiri”. Benarkah demikian?
Siapapun yang mengkaji Demokrasi tentu tidak akan melupakan dua hal: ”Demokrasi Prosedural” dan Sistem Demokrasi.

1. ”Demokrasi Prosedural”, diantaranya mewujud dalam partisipasi rakyat dalam pemilu, transparansi dan akuntabilitas serta keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak, yang mana tidak ada perbedaan antara suara dari seorang penjahat yang dzalim dengan suara dari seorang ulama dalam menentukan pilihan dan siapapun berhak menjadi pemimpin tanpa melihat latar belakangnya asalkan dia mempunyai cukup biaya dan memperoleh suara terbanyak. Jika melihat pada sisi Ideologinya yakni Kapitalisme, karena Demokrasi merupakan produk dari Ideologi Kapitalisme yang ber-Aqidahkan Sekularisme (memisahkan Agama dari Kehidupan), maka jelaslah di dalam Buku The Prince (Sang Pangeran) yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (Bapak Kapitalisme) yang menegaskan bahwa seorang Penguasa yang ingin tetap mempertahankan dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan. Buku The Prince sering dijuluki orang: “buku petunjuk pemimpin diktator”, konon para diktator seperti Napoleon, Hitler dan Stalin serta Pemimpin siapa saja yang bisa kita lihat dari sisi Paradigma, Kepemimpinan dan Kebijakan mereka yang mirip dengan gambaran di atas senantiasa tidur dibantal yang di bawahnya terselip Buku The Prince.
2. Sistem Demokrasi, di Negara manapun paling tidak mencerminkan dua hal: (a) Kekuasaan dan Kedaulatan di tangan rakyat; (b) Jaminan atas Kebebasan Umum.
a) Kekuasaan dan Kedaulatan di tangan rakyat.
Demokrasi ala Kapitalisme-Sekular, telah mampu menghipnotis ”umat manusia” menjadi pembangkan Tuhan, kehidupan keseharianpun dipaksa dan terpenjara dalam sindrom tik: Tatanan masyarakat yang Pluralistik, Tata kehidupan yang Sekularistik, Gaya hidup yang Konsumeristik, Kesehatan dan Pendidikan yang Materialistik, Sosial yang Individualistik, Budaya yang Hedonistik, Politik yang Opurtunistik, Ekonomi yang Liberalistik, Kebangsaan yang Nasionalistik, Agama yang Sinkretistik, dan sebagainya sehingga Paradigma Kapitalismepun akhirnya tercipta, heran dan ironisnya masyarakatpun kini memakan dan menjilat mentah-mentah Demokrasi dan segala yang berbau Kapitalisme..!
Penerapan Demokrasi adalah bagian dari penjajahan yang dilakukan oleh Negara-negara Barat Imperialis Penjajah, seperti pernyataan yang dilontarkan oleh Bush pada pidatonya: ”Jika kita hendak mempertahankan dan melindungi Negara kita (AS) dalam jangka panjang, maka hal terbaik yang kita lakukan adalah menyebarluaskan Demokrasi dan Kebebasan (Liberalism)”. (Kompas, 6/11/2004), serta Dokumen yang dikeluarkan Gedung Putih (The National Security Strategy USA), yang berisikan 5 Program utama untuk melawan dan menghambat Ideologi yang dikhawatirkan akan muncul sebagai tandingan dan mengancam eksistensi kepemimpinan Ideologi mereka (Kapitalisme). Ideolodi yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Ideologi Islam, dan 5 Agenda itu: Demokrasi. HAM, Pasar Bebas, Senjata Pemusnah Massal dan Terorisme yang semuanya dikemas dalam bentuk Globalisasi.
Berangkat dari semuanya itu maka Jargon Demokrasi yang katanya Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat hanyalah sebuah Slogan manis yang berisikan racun untuk menina-bobokkan rakyat, yang juga hanya sebatas dongeng yang disusupkan kedalam kurikulum pendidikan, namun setelah kita tersadar dari istirahat panjang maka, wajah asli Demokrasipun kini telah nampak bahwa Demokrasi hanyalah Sistem Dari Rakyat, Oleh Penguasa, Untuk Pengusaha dan Tuan-tuan Imperialis Adidaya.
b) Jaminan untuk Kebebasan Umum.
Pertama; Kebebasan Beragama. Intinya, seseorang berhak meyakini suatu Agama dan berhak masuk-keluar Agama manapun sekehendaknya.
Kedua; Kebebasan Berpendapat. Intinya, seseorang berhak mengemukakan pendapatnya, sekalipun itu adalah penghinaan kapada Nabi SAW, Al-Quran dan lainnya tanpa tolak ukur halal-haram.
Ketiga; Kebebasan Kepemilikan. Intinya, siapapun bebas dalam memiliki sesuatu apapun tanpa batasan termasuk Privatisasi, Penjualan aset negara dan sebagainya.
Keempat; Kebebasan Berperilaku. Intinya, setiap orang bebas berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan di depan umum, seperti: membuka aurat, berzina, menyebarluaskan pornografi, melakukan pornoaksi, praktik homo seksual dan lesbian, dan sejenisnya.
Jelaslah , hakikat buruk dan bahaya Demokrasi yang berlandaskan Kapitalisme-Sekularisme semakin menjauhkan Hukum Allah SWT serta menciptakan pembangkangan terhadap otoritas Tuhan sebagai satu-satunya yang berhak membuat Hukum (lihat: QS. al-An’aam [6]: 57) dan menanamkan Liberalisasi dalam segala aspek kahidupan, padahal telah ditegaskan di dalam Al-Quran, bahwa: ”barang siapa yang tidak memutuskan suatu perkara berdasarkan yang diturunkan Allah SWT (Syariah), maka mereka adalah orang-orang yang Kafir, Dzalim dan Fasik” (QS. Al-Maaidah [5]: 44, 45, 47). Berbeda dengan ajaran Islam yang menjalankan Ideologi Suci (Islam) dan menerapkan Syariah Islam secara Kaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang pernah berjaya dan menguasai 2/3 Dunia dan menuai tinta emas sepanjang sejarah peradaban selama 13 abad lebih lamanya, dimana umat Islam senantiasa menyerukan Dakwah Islam dan mengikuti metode Dakwah Rasulullah SAW serta menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar pemikiran dan Hukum Syara sebagai tolak ukur amal perbuatan sekaligus Sumber Hukumnya. Dan Khilafah-lah wujud Islam secara utuh tanpa noda isme lain, tanpa tambalan Kapitalisme-Liberalisme dan sulaman Sosialisme-Komunisme dan tanpa dikebiri. Wujud nyata seperti yang dititahkan dan dicontohkan oleh Sang Suri Tauladan Sejati yang Mahsum utusan Al-Khalik dan para Sahabatnya. Kini Khilafah yang telah ditenggelamkan selama 86 tahun lamanya, sangat ditakuti kebangkitannya kembali oleh Imperialis Barat yang akan memayungi kekuatan utama Islam yakni Aqidah, Syariah, Dakwah dan Jihad sesuai Janji Allah SWT dan Bisyarah Rasulullah SAW. Karena akan menghancurkan segala bentuk Ideologi Thogut Kufr termasuk Demokrasi ala Kapitalisme Sekular.

(CP/Asseifff)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: