Hentikan Perdebatan Hadits Ahad!

Pada dasarnya perbedaan pendapat dalam masalah hadits ahad bukanlah perbedaan pendapat yang sudah memasuki ranah ‘aqidah. Sebab, para ‘ulama sendiri berbeda pendapat dalam masalah ini dan itu sudah masyhur di kalangan mereka. Selain itu, perbedaan semacam ini juga diakibatkan karena banyak faktor, mulai dari ushul hadits yang berbeda, kaedah tarjih yang berbeda, perbedaan dalam penetapan kriteria hadits termasuk ahad atau mutawatir, dan lain sebagainya. Misalnya, ada sebagian ‘ulama hadits menetapkan syariat kemutawatiran sebuah hadits dikaitkan dengan jumlah. Mereka berpendapat bahwa suatu hadits baru disebut mutawatir jika diriwayatkan lebih dari empat orang. Ada pula yang berpendapat harus diriwayatkan 10 orang dan lain sebagainya. Lantas, kita bisa bertanya, kalau kita berpedoman pada ‘ulama yang berpendapat bahwa syarat mutawatir harus diriwayatkan oleh 10 orang lebih, tentu saja kita akan menolak kemutawatiran berita yang hanya diriwyatkan 4 orang. Padahal, menurut sebagian ‘ulama –bila diriwayatkan empat orang sudah dianggap mutawatir. Lantas, apakah kita akan mengkafirkan ‘ulama lain yang tidak memutawatirkan berita tersebut hanya karena perbedaan kriteria?

Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Quran menyatakan, bahwa, hadits ahad tidak bisa dijadikan sandaran (hujjah) dalam menerima masalah ‘aqidah. Al-Quranlah rujukan yang benar, dan kemutawatirannya adalah syarat dalam menerima pokok-pokok ‘aqidah .

Imam Syaukani menyatakan, “Khabar ahad adalah berita yang dari dirinya sendiri tidak menghasilkan keyakinan. Ia tidak menghasilkan keyakinan baik secara asal, maupun dengan adanya qarinah dari luar…Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama. Imam Ahmad menyatakan bahwa, khabar ahad dengan dirinya sendiri menghasilkan keyakinan. Riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Hazm dari Dawud al-Dzahiriy, Husain bin ‘Ali al-Karaabisiy dan al-Harits al-Muhasbiy.’

Prof Mahmud Syaltut menyatakan, ‘Adapun jika sebuah berita diriwayatkan oleh seorang, maupun sejumlah orang pada sebagian thabaqat –namun tidak memenuhi syarat mutawatir [pentj]—maka khabar itu tidak menjadi khabar mutawatir secara pasti jika dinisbahkan kepada Rasulullah saw. Ia hanya menjadi khabar ahad. Sebab, hubungan mata rantai sanad yang sambung hingga Rasulullah saw masih mengandung syubhat (kesamaran). Khabar semacam ini tidak menghasilkan keyakinan (ilmu) .”

Beliau melanjutkan lagi, ‘Sebagian ahli ilmu, diantaranya adalah imam empat (madzhab) , Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’iy dan Imam Ahmad dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa hadits ahad tidak menghasilkan keyakinan.”

Al-Ghazali berkata, “Khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan. Masalah ini –khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan—merupakan perkara yang sudah dimaklumi. Apa yang dinyatakan sebagian ahli hadits bahwa ia menghasilkan ilmu, barangkali yang mereka maksud dengan menghasilkan ilmu adalah kewajiban untuk mengamalkan hadits ahad. Sebab, dzan kadang-kadang disebut dengan ilmu.”

Imam Asnawiy menyatakan, “Sedangkan sunnah, maka hadits ahad tidak menghasilkan apa-apa kecuali dzan ”

Imam Bazdawiy menambahkan lagi, “Khabar ahad selama tidak menghasilkan ilmu tidak boleh digunakan hujah dalam masalah i’tiqad (keyakinan). Sebab, keyakinan harus didasarkan kepada keyakinan. Khabar ahad hanya menjadi hujjah dalam masalah amal. ”

Imam Asnawiy menyatakan, “Riwayat ahad hanya menghasilkan dzan. Namun, Allah swt membolehkan dalam masalah-masalah amal didasarkan pada dzan….”

Al-Kasaaiy menyatakan, “Jumhur fuqaha’ sepakat, bahwa hadits ahad yang tsiqah bisa digunakan dalil dalam masalah ‘amal (hukum syara’), namun tidak dalam masalah keyakinan…”

Imam Al-Qaraafiy salah satu ‘ulama terkemuka dari kalangan Malikiyyah berkata, “..Alasannya, mutawatir berfaedah kepada ilmu sedangkan hadits ahad tidak berfaedah kecuali hanya dzan saja.”

Al-Qadliy berkata, di dalam Syarh Mukhtashar Ibn al-Haajib berkata, “’Ulama berbeda pendapat dalam hal hadits ahad yang adil, dan terpecaya, apakah menghasilkan keyakinan bila disertai dengan qarinah. Sebagian menyatakan, bahwa khabar ahad menghasilkan keyakinan dengan atau tanpa qarinah. Sebagian lain berpendapat hadits ahad tidak menghasilkan ilmu, baik dengan qarinah maupun tidak.”
Syeikh Jamaluddin al-Qasaamiy, berkata, “Jumhur kaum muslim, dari kalangan shahabat, tabi’in, dan ‘ulama-ulama setelahnya, baik dari kalangan fuqaha’, muhadditsin, serta ‘ulama ushul; sepakat bahwa khabar ahad yang tsiqah merupakan salah satu hujjah syar’iyyah; wajib diamalkan, dan hanya menghasilkan dzan saja, tidak menghasilkan ‘ilmu.”

Dr. Rifat Fauziy, berkata, “Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang,dua orang, atau lebih akan tetapi belum mencapai tingkat mutawatir, sambung hingga Rasulullah saw. Hadits semacam ini tidak menghasilkan keyakinan, akan tetapi hanya menghasilkan dzan….akan tetapi, jumhur ‘Ulama berpendapat bahwa beramal dengan hadits ahad merupakan kewajiban.”

Perlu diketahui, bahwa ulama-ulama di atas sepengetahuan saya bukan anggota HIZBUT TAHRIR. Jadi pendapat bahwa hadits Ahad tidak bisa digunakan untuk masalah Aqidah, tetapi hanya bisa digunakan untuk masalah syariat adalah pendapat para ulama-ulama di atas.
Apa yang saya sampaikan diatas tak mewakili pendapat saya sendiri, bahwa saya termasuk yang menerima. Saya hanya ingin masalah ini tidak diperdebatkan.

Jadi, mulai sekarang hentikan perdebatan masalah ini. Jangan terus larut dalam perpecahan, pertikaian, dan permusuhan hanya karna perbedaan.
wallahu’alam bis shawab …

refrensi:
Sayyid Qutub –> Sayyid Qutub, Fi
Dzilalil Quran, juz 30, hal. 293-294

Imam Syaukani –> Irsyaad al-Fuhuul ila
Tahqiiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushuul,
hal.48. Diskusi tentang hadits ahad,
apakah ia menghasilkan keyakinan atau
tidak setidaknya bisa diikuti dalam kitab
Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, karya
Imam al-Amidiy; [lihat Al-Amidiy, Al-
Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, juz I, Daar
al-Fikr, 1417 H/1996 M, hal.218-223].

Prof Mahmud Syaltut –> Islam, ‘Aqidah
wa Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam,
hal. 63.

Al-Ghazali –> Islam, ‘Aqidah wa Syari’ah,
ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal. 64
Imam Asnawiy –> IIslam, ‘Aqidah wa
Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal.
64

Imam Bazdawiy –> IIslam, ‘Aqidah wa
Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal.
64

Al-Kasaaiy –> Al-Kasaaiy, Badaai’ al-
Shanaai’, juz.I, hal.20

Imam Al-Qaraafiy –> Imam al-Qaraafiy,
Tanqiih al-Fushuul , hal.192.

Al-Qadliy –> Syarh Mukhtashar Ibn al-
Haajib

Dr. Rifat Fauziy, –> Dr. Rifat Fauziy, al-
Madkhal ila Tautsiiq al-Sunnah, ed.I,
tahun 1978.

http://assyafii.blogspot.com
(CP/Asseifff)

2 Komentar

  1. Anonymous said,

    Januari 17, 2010 pada 11:30 pm

    boleh kenalan dong admin blog ini yang selalu copy tulisan ana -assyafii.blogspot.com- email ke parafanszul@gmail.com

  2. Januari 18, 2010 pada 5:23 am

    Afwan sebelumnya yg gak confirm dulu di admin http://assyafii.blogspot.com
    tp semua yg aku copy semua aku kasih source nya kok..
    Jazakallah atas tulisan2nya yg bagus2.. ^_^

    Saya Ikhwan.. nama online saya 'Asseifff'
    Salam kenal dan salam Ukuwah..!!

    bisa YM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: